Dalam kesempatan itu, Mulyadi merasa perlu menyuarakan kegelisahannya. Di matanya, pembangunan yang digaungkan itu masih timpang. Pusat gravitasi kekuasaan dan pembangunan, menurutnya, masih terpusat di Jakarta. Akibatnya, meski terlihat sibuk, hasil di lapangan kerap tak maksimal.
"Menteri meresmikan jembatan, foto-foto untuk propaganda, nggak ada hasilnya. Karena kekuasaan tidak diberikan kepada daerah,"
ujarnya tegas.
Intinya, meski proyek fisik bertebaran, sejumlah target pembangunan disebutkan belum tercapai. Ada kesenjangan antara kemegahan peresmian dan manfaat berkelanjutan yang dirasakan masyarakat di daerah. Pembangunan fisik yang masif, di sisi lain, belum sejalan dengan pemerataan wewenang dan keadilan yang seutuhnya.
Artikel Terkait
Kosongnya Kursi Wamenkeu Picu Gelombang Spekulasi Reshuffle
Sejarawan Soroti Menteri Muda: Kematangan Tak Bisa Dibeli dengan Jas
DPR Soroti Menteri PU yang Terbata-bata Saat Paparkan Anggaran Bencana
Prodem Kirim Surat Tegas ke Istana: Polri Harus Tetap di Bawah Presiden