“Justru sebaliknya. Judi online makin vulgar, makin sistematis, dan makin menjerat masyarakat.”
Di sisi lain, ada hal penting yang tampak diabaikan: diplomasi. Aminullah menyoroti betapa lemahnya upaya kerja sama internasional, khususnya dengan negara-negara yang dikenal sebagai ‘surga’ bagi bandar judol, seperti Kamboja.
“Diplomasi digital yang agresif mana? Tekanan bilateral yang kuat? Kerja sama intelijen siber lintas negara? Nyaris tidak ada,” katanya dengan nada kecewa.
“Negara ini kelihatannya kalah langkah. Ironis, bukan? Kita seperti hanya bisa gigit jari sementara bandar judol makin merajalela.”
Ia menekankan, dampaknya bukan sekadar angka. Ini soal nyawa dan masa depan. Setiap hari, rakyat kecil kalah. Keluarga hancur. Generasi muda dirusak oleh algoritma kejahatan yang canggih.
“Kalau negara absen, atau lemah dalam menghadapinya, maka pejabat yang bertanggung jawab harus mempertanggungjawabkannya. Dia tidak layak terus bertahan di kursi kekuasaan,” tegas Aminullah menutup pernyataannya.
Artikel Terkait
Gibran Santai Disindir Pandji, Malah Apresiasi Mens Rea yang Tembus Puncak Netflix
Tifatul Sembiring: Jangan Baperan, Kasus Pandji Tak Perlu Dibawa ke Hukum
Dokter Tifa Soroti SP3 Eggi-Damai: Abuse of Power yang Tendang Penegakan Hukum ke Bantar Gebang
Kemhan Lantik Noe Letto dan Putra Hotman Paris Jadi Tenaga Ahli Strategis