MURIANETWORK.COM - Posisi PDIP sebagai partai penyeimbang dalam panggung politik nasional belakangan ini menarik untuk dicermati. Bukan cuma soal pilihan normatif dalam demokrasi, tapi lebih ke strategi politik yang cukup cerdik. Mereka berusaha menjaga keseimbangan kekuasaan, sambil tetap punya ruang untuk bergerak.
Menurut Arifki Chaniago dari Aljabar Strategic Indonesia, gaya PDIP sekarang ini memang beda. Kalau dibandingin sama era SBY dulu, oposisinya nggak setajam dulu. Kritik tetap ada, tapi disampaikan dengan cara yang lebih halus, diplomatis. Mereka juga tetap menjaga jalur komunikasi dengan pemerintah.
"Sikap penyeimbang bisa dibaca sebagai upaya PDIP untuk tidak menutup pintu kekuasaan. Tetap kritis, tetapi tidak memosisikan diri sebagai musuh politik permanen,"
kata Arifki kepada wartawan di Jakarta, Kamis lalu.
Menurutnya, pergeseran gaya ini nggak main-main. Ini perhitungan matang. PDIP kayaknya sengaja menghindari konfrontasi langsung biar nggak terisolasi. Di sisi lain, dengan cara ini mereka bisa tetap punya posisi tawar. Apalagi di tengah dinamika pemerintahan Prabowo yang masih sangat cair dan belum sepenuhnya terbentuk.
Strategi ini dianggap relevan. Dengan menjaga hubungan, peluang untuk masuk kabinet entah lewat reshuffle atau kerja sama di tengah jalan tetap terbuka lebar. Itu sih analisis Arifki.
Lalu ada faktor lain yang lebih rumit. PDIP juga lagi membaca ulang peta kekuatan elite nasional. Mereka memperhitungkan dinamika hubungan antara Jokowi dan SBY. Dua tokoh ini punya pengaruh dan jaringan yang luas, dan diperkirakan bakal memainkan peran kunci soal calon wakil presiden nanti di 2029.
"PDIP tentu tidak bisa mengabaikan fakta bahwa relasi SBY dan Jokowi ke depan akan sangat dinamis. Posisi cawapres akan menjadi titik temu kepentingan banyak elite, dan PDIP tampak tidak ingin keluar dari arena itu terlalu dini," jelas Arifki.
Nah, sejarah hubungan Megawati dan Prabowo juga jadi pertimbangan. Meski pernah berseberangan, mereka juga pernah berduet di masa lalu. Artinya, kerja sama strategis bukan hal yang aneh buat PDIP.
"Secara historis, Megawati dan Prabowo pernah berduet. Artinya, secara psikologis dan politis, opsi itu bukan sesuatu yang tabu. Peluang tersebut tampaknya tidak ingin ditutup PDIP, terutama untuk memberi ruang bagi kadernya pada 2029," pungkasnya.
Jadi, posisi sebagai penyeimbang ini bukan sekadar gaya. Ini langkah taktis. Sebuah cara untuk tetap berada di dalam permainan, menunggu momentum yang tepat, sambil memastikan suara mereka tetap terdengar meski dengan nada yang berbeda.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Terima Laporan Strategis dari Wakil Ketua DPR Usai Kunjungan ke Rusia dan Prancis
Anggota DPR Desak Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah
Koordinator KKN UGM 1985 Klaim Tak Kenal Joko Widodo
Rocky Gerung Soroti Rp17 Triliun untuk Dewan Perdamaian Trump: Harga Sebuah Buku dan Nyawa Anak di NTT