MURIANETWORK.COM - Posisi PDIP sebagai partai penyeimbang dalam panggung politik nasional belakangan ini menarik untuk dicermati. Bukan cuma soal pilihan normatif dalam demokrasi, tapi lebih ke strategi politik yang cukup cerdik. Mereka berusaha menjaga keseimbangan kekuasaan, sambil tetap punya ruang untuk bergerak.
Menurut Arifki Chaniago dari Aljabar Strategic Indonesia, gaya PDIP sekarang ini memang beda. Kalau dibandingin sama era SBY dulu, oposisinya nggak setajam dulu. Kritik tetap ada, tapi disampaikan dengan cara yang lebih halus, diplomatis. Mereka juga tetap menjaga jalur komunikasi dengan pemerintah.
"Sikap penyeimbang bisa dibaca sebagai upaya PDIP untuk tidak menutup pintu kekuasaan. Tetap kritis, tetapi tidak memosisikan diri sebagai musuh politik permanen,"
kata Arifki kepada wartawan di Jakarta, Kamis lalu.
Menurutnya, pergeseran gaya ini nggak main-main. Ini perhitungan matang. PDIP kayaknya sengaja menghindari konfrontasi langsung biar nggak terisolasi. Di sisi lain, dengan cara ini mereka bisa tetap punya posisi tawar. Apalagi di tengah dinamika pemerintahan Prabowo yang masih sangat cair dan belum sepenuhnya terbentuk.
Strategi ini dianggap relevan. Dengan menjaga hubungan, peluang untuk masuk kabinet entah lewat reshuffle atau kerja sama di tengah jalan tetap terbuka lebar. Itu sih analisis Arifki.
Artikel Terkait
Hensat Soroti Kontroversi Pandji: Ini Cuma Ekspresi Kekesalan, Bukan Gerakan Asing
Jokowi Masih Jadi Bahan Perdebatan, Warganet: Seperti Nabi, Bungulnya
Damai Lubis Bantah Isu Permintaan Maaf Eggi Sudjana ke Jokowi
AHY Geser Nama Besar, Elektabilitasnya Tembus Peringkat Empat di Mata Anak Muda