"Dalam perjalanan, kan, selalu ada yang lurus ada yang bengkok. Ada yang tegak, ada yang loyo. Sudah pasti, ada pemberani dan tak kurang pula yang pengecut."
Dia kemudian menyambung dengan kalimat pendek yang sarat makna.
"Intinya, ada pejuang ada pecundang."
Lebih dari sekadar komentar, Khozinudin melihat momen ini justru harus jadi bahan instrospeksi bagi siapa saja yang mengaku berjuang. Pesannya jelas: jangan sampai perjuangan itu ternoda oleh pamrih yang bersifat duniawi.
"Jangan berjuang untuk cari pujian, harta, atau kedudukan," tegasnya. "Apalagi sekadar ingin dianggap pahlawan."
Pertemuan di Solo dan tanggapan yang mengikutinya seolah menggambarkan sebuah pecahan dari peta politik yang lebih besar. Semuanya bergerak, ada yang berbelok, dan semuanya menuai tafsirnya masing-masing.
Artikel Terkait
Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis Bersilaturahmi ke Kediaman Jokowi
Megawati Buka Rakernas PDIP dengan Tema Kebenaran Akan Menang
Eggi Sudjana Minta Jokowi Bantu Cabut Cekal untuk Berobat ke Luar Negeri
Pertemuan di Solo: Kunjungan Tersangka ke Rumah Ayah Gibran Picu Tafsir Politik