"Dalam perjalanan, kan, selalu ada yang lurus ada yang bengkok. Ada yang tegak, ada yang loyo. Sudah pasti, ada pemberani dan tak kurang pula yang pengecut."
Dia kemudian menyambung dengan kalimat pendek yang sarat makna.
"Intinya, ada pejuang ada pecundang."
Lebih dari sekadar komentar, Khozinudin melihat momen ini justru harus jadi bahan instrospeksi bagi siapa saja yang mengaku berjuang. Pesannya jelas: jangan sampai perjuangan itu ternoda oleh pamrih yang bersifat duniawi.
"Jangan berjuang untuk cari pujian, harta, atau kedudukan," tegasnya. "Apalagi sekadar ingin dianggap pahlawan."
Pertemuan di Solo dan tanggapan yang mengikutinya seolah menggambarkan sebuah pecahan dari peta politik yang lebih besar. Semuanya bergerak, ada yang berbelok, dan semuanya menuai tafsirnya masing-masing.
Artikel Terkait
Anggota DPR Desak Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah
Koordinator KKN UGM 1985 Klaim Tak Kenal Joko Widodo
Rocky Gerung Soroti Rp17 Triliun untuk Dewan Perdamaian Trump: Harga Sebuah Buku dan Nyawa Anak di NTT
Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Desak Prabowo Tindak Tegas Erick Thohir