"Saya mewakili para kiai… sampean sudah ikhlas mundur, memberi kesempatan Gus Dur jadi presiden," begitu kira-kira ucapan mereka, menurut Yusril.
Di situlah ia menyampaikan sesuatu yang mendalam.
"Saya ini anak Masjumi… Jadi tolonglah antara anak Masjumi dan anak NU ini jangan ada beban psikologis lagi."
Ucapan itu punya bobot sejarah. Hubungan Masjumi dan NU di masa lalu memang kerap diwarnai ketegangan. Keputusan Yusril untuk mundur, dan penerimaan dari para kiai NU, seolah menjadi titik balik. Sebuah rekonsiliasi diam-diam antara dua arus besar Islam di tanah air.
Bukan Cuma Soal Strategi
Mahfud MD, dalam percakapan itu, menyoroti karakter Yusril. Ia menggambarkannya sebagai politisi tegas tapi rasional, bukan tipe yang memaksakan ambisi pribadi. Di titik kritis itu, Yusril lebih memilih bertindak sebagai negarawan.
Langkah mundurnya bukan cuma manuver politik biasa. Itu adalah sebuah kesadaran sejarah. Tanpa pengorbanan itu, jalan Gus Dur ke istana bisa jauh lebih berliku. Dan akhirnya, pada 20 Oktober 1999, Gus Dur resmi dilantik.
Pengakuan Yusril ini penting. Ia membuka tabir salah satu momen paling menentukan di awal reformasi. Cerita ini mengingatkan bahwa politik kita pernah punya saat-saat dimana ego dikalahkan untuk sesuatu yang lebih besar. Kemenangan Gus Dur kala itu, pada hakikatnya, juga dibangun dari keputusan ikhlas seorang Yusril Ihza Mahendra.
Artikel Terkait
Anggota DPR Desak Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah
Koordinator KKN UGM 1985 Klaim Tak Kenal Joko Widodo
Rocky Gerung Soroti Rp17 Triliun untuk Dewan Perdamaian Trump: Harga Sebuah Buku dan Nyawa Anak di NTT
Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Desak Prabowo Tindak Tegas Erick Thohir