FIFA Tolak Permintaan Iran dan Mesir, Bendera Pelangi Tetap Boleh di Piala Dunia 2026

- Minggu, 28 Juni 2026 | 05:30 WIB
FIFA Tolak Permintaan Iran dan Mesir, Bendera Pelangi Tetap Boleh di Piala Dunia 2026

FIFA menolak permintaan Iran dan Mesir untuk melarang simbol Pride dalam pertandingan Piala Dunia 2026. Keputusan ini memastikan suporter tetap boleh membawa bendera pelangi ke stadion.

Laga Iran versus Mesir di Lumen Field, Seattle, dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (27/6/2026) dini hari waktu Inggris. Pertandingan itu bertepatan dengan perayaan tahunan komunitas LGBTQ di Seattle, yang dikenal sebagai PrideFest.

Sebelum pertandingan, kedua negara mendekati FIFA agar laga mereka tidak dikaitkan dengan PrideFest. Acara tahunan itu merupakan salah satu perayaan LGBTQ terbesar di kawasan tersebut, menarik ratusan ribu peserta setiap tahun.

Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, secara terbuka mengkritik situasi menjelang pertandingan. Federasi Sepak Bola Mesir juga mengirim surat resmi ke FIFA yang menolak aktivitas yang dianggap mendukung homoseksualitas selama laga.

FIFA Pegang Prinsip Inklusivitas

Meski mendapat tekanan, FIFA tetap pada kebijakannya. Badan sepak bola dunia itu menegaskan Piala Dunia 2026 adalah turnamen terbuka bagi semua kalangan tanpa memandang latar belakang, orientasi seksual, atau identitas gender.

FIFA menyatakan setiap suporter berhak menikmati pertandingan dalam suasana aman dan inklusif. Organisasi itu juga menegaskan semua penggemar sepak bola dari berbagai kelompok masyarakat diterima di setiap pertandingan dan kegiatan resmi Piala Dunia.

Bendera Pelangi Diperbolehkan

FIFA menjelaskan simbol terkait hak asasi manusia, termasuk bendera pelangi dan atribut yang merepresentasikan orientasi seksual atau identitas gender, tetap diperbolehkan berdasarkan Kode Etik Stadion Piala Dunia 2026. Namun, penggunaannya harus mengikuti aturan penyelenggara.

Keputusan ini menegaskan komitmen FIFA dalam menjaga prinsip inklusivitas dan keterbukaan di ajang sepak bola terbesar dunia.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags