Keluarga Farhan Gunawan, co-pilot pesawat ATR 42-500 yang hilang, mendesak Presiden Prabowo Subianto. Mereka meminta tambahan tim SAR. Permintaan itu muncul setelah smartwatch milik Farhan terdeteksi masih aktif dan mencatat ribuan langkah.
Pesawat yang membawa 10 orang itu jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung. Rencananya, pesawat sewaan Kementerian Kelautan dan Perikanan ini terbang dari Yogyakarta menuju Makassar untuk misi pengawasan laut. Hingga saat ini, operasi pencarian dan evakuasi masih berlangsung. Dua jenazah telah berhasil ditemukan.
Di tengah ketegangan itu, secercah harapan muncul dari sebuah perangkat elektronik.
Seorang perempuan yang mengaku kakak dari kekasih Farhan, Dian, menyampaikan pengakuan yang mengharukan. Menurutnya, ponsel Farhan telah ditemukan oleh tim SAR di dalam hutan dan diserahkan kepada adiknya. Nah, yang menarik, ponsel itu ternyata masih tersambung dengan smartwatch yang dikenakan Farhan.
"Saya minta tolong ke media, bahwa pesawat jatuh tanggal 17, tanggal 18 dilakukan pencarian dan HP Farhan ada dapat di hutan. Nah HP itu sudah dipegang adik saya," ujarnya.
"Nah, hapenya itu terhubung ke smartwatch-nya. Ternyata ada pergerakan langkah kaki Farhan," lanjutnya dalam sebuah video, suaranya terbata-bata.
Data pada ponsel itu menunjukkan aktivitas. Pada Minggu pagi sekitar pukul 06.00 WITA, tercatat beberapa langkah. Angkanya terus bertambah sepanjang hari, bahkan mencapai puluhan ribu.
"Dari pagi jam 6 ada beberapa langkah, terus ditambah lagi jam 10 sampai malam juga ada."
Dengan suara penuh harap dan sesekali terisak, ia pun memohon langsung kepada Presiden.
"Saya mohon sekali Pak Presiden Prabowo Subianto, selamatkan Farhan pak," pintanya.
Bagaimana tanggapan pihak berwenang?
Arman Amiruddin, Staf SAR Mission Coordinator Basarnas Makassar, membenarkan temuan ponsel tersebut. Ponsel itu kini diserahkan ke Tim Cyber Polda Sulsel untuk dibuka kuncinya. Tujuannya, melacak koordinat terakhir yang aktif.
Arman mengonfirmasi data pergerakan yang beredar. "Kami meminta supaya bisa dilacak koordinat terakhir. Karena dari laporan yang dia kirim itu, per jam 06.53 Wita hari Minggu, ada terbaca seribu langkah. Terus sampai ke jam 05.33 Wita, ada 13 ribu langkah," jelasnya di Posko SAR.
Meski data itu ada, Arman tetap hati-hati. Selama tiga hari pencarian, tim di lapangan sama sekali tidak mendengar suara minta tolong atau tanda-tanda kehidupan lainnya. "Untuk memastikan yang beredar, kami belum bisa memastikan bahwa ini hidup atau gimana," katanya.
Intinya, semua harapan kini tertumpu pada proses pelacakan digital itu. Sementara di lereng Gunung Bulusaraung, pencarian fisik terus dilakukan tanpa henti. Berdasarkan temuan di lokasi kejadian, pesawat diduga meledak setelah menabrak tebing gunung. Perjalanan pulang sepuluh anak bangsa itu masih menyisakan misteri yang dalam.
Artikel Terkait
Dari Suara Aneh hingga Laporan Hukum: Kronologi Bocornya CCTV Rumah Inara Rusli
Jangan Beli Buku hingga Jauhkan Sapu: Pantangan Unik Sambut Imlek 2026
Dedi Mulyadi Siapkan 3.000 Lowongan Kerja, Utamakan Lulusan SMK Jabar
Dedi Mulyadi Dikritik Usai Turun Langsung Evakuasi Korban Longsor