Pencarian MH370 Kembali Digelar, Ilmuwan Klaim Tahu Titik Persisnya

- Jumat, 02 Januari 2026 | 07:00 WIB
Pencarian MH370 Kembali Digelar, Ilmuwan Klaim Tahu Titik Persisnya

MURIANETWORK.COM - Sepanjang 2025, misteri hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370 masih jadi perbincangan hangat. Yang bikin penasaran, ada ilmuwan yang ngaku udah nemuin titik terang. Katanya, dia tahu persis di mana pesawat itu sekarang.

Nah, kabar terbarunya, pemerintah Malaysia ternyata bakal ngelanjutin operasi pencarian. Mereka udah jadwalkan untuk mulai lagi pada akhir tahun ini, tepatnya tanggal 30 Desember 2025. Harapannya sih, spekulasi panjang lebar selama ini bisa diputus. Soalnya, udah lebih dari sepuluh tahun pesawat itu hilang begitu aja di tengah penerbangan dari Kuala Lumpur ke Beijing.

Rencananya, pencarian dasar laut ini bakal berlangsung selama 55 hari. Kementerian Transportasi Malaysia kerja sama dengan perusahaan eksplorasi maritim Ocean Infinity dengan skema yang unik: bayar kalau ketemu. Kontrak 'no find, no fee' itu artinya pemerintah cuma perlu merogoh kocek sekitar 1,1 triliun rupiah kalau bangkai pesawat berhasil ditemukan dan diverifikasi. Ocean Infinity sendiri rencananya bakal menyisir area baru yang luasnya mencapai 15.000 kilometer persegi di Samudra Hindia. Sampai saat ini, mereka masih tutup mulut soal detail teknisnya.

Klaim Sang Ilmuwan

Di sisi lain, muncul klaim dari Vincent Lyne, seorang ilmuwan asal Australia. Dia dengan yakin bilang kalau misteri MH370 udah terpecahkan berkat sains.

Lyne, yang merupakan peneliti di University of Tasmania, meyakini pesawat itu tenggelam di perairan Samudra Hindia. Tepatnya di sebuah lubang sedalam sekitar 20.000 kaki di area Broken Ridge. Tempat itu, katanya, adalah dataran besar di dasar laut yang terpencil dan terjal.

Dalam unggahan di LinkedIn, Lyne berpendapat pilot MH370, Zaharie Ahmad Shah, sengaja menerbangkan pesawat ke lokasi itu. Menurutnya, lanskap wilayah tersebut "sempurna" untuk menyembunyikan pesawat dari pelacakan.

"Temuan ini mengubah narasi hilangnya MH370," ujar Lyne.

Dia nggak setuju dengan teori kehabisan bahan bakar. Lyne justru nyebut insiden ini lebih berkaitan dengan kesalahan kalkulasi dan kontrol pesawat. Klaim lokasinya itu didapat dari persimpangan garis bujur Bandara Penang dengan jalur dari simulator pilot sebuah rute yang dulu dianggap nggak relevan oleh penyelidik lain.

"Lokasi itu perlu diverifikasi sebagai prioritas tinggi. Soal akan dicari lebih lanjut atau tidak terserah petugas dan perusahaan pencarian. Namun, menurut sains, kita tahu kenapa pencarian sebelumnya gagal," tambah Lyne.

Harapan dan Kenyataan Pahit

Penerbangan MH370 yang hilang tahun 2014 itu membawa 239 orang. Mayoritas penumpangnya warga China, tapi ada juga warga dari belasan negara lain termasuk Indonesia, Australia, dan Amerika Serikat.

Selama bertahun-tahun, beberapa puing yang dikonfirmasi sebagai bagian dari pesawat sempat terdampar di pantai Afrika dan pulau-pulau di Samudra Hindia. Temuan-temuan itu kemudian dianalisis buat mempersempit kemungkinan lokasi jatuhnya. Tapi ya itu, titik pastinya tetap jadi misteri. Bahkan untuk pencarian yang baru ini, pemerintah Malaysia masih merahasiakan lokasi spesifiknya. Mereka cuma bilang akan fokus ke area yang dinilai punya probabilitas tertinggi.

Laporan investigasi resmi Malaysia di 2018 dulu menyimpulkan pesawat itu dibelokkan secara manual. Mereka nggak bisa kesampingkan kemungkinan campur tangan pihak ketiga, tapi juga membantah teori bunuh diri pilot atau kegagalan teknis sebagai penyebab utama.

Di tengah semua itu, harapan terbesar tentu datang dari keluarga korban. Mereka menyambut baik rencana pencarian baru ini.

Danica Weeks, yang suaminya, Paul, adalah salah satu penumpang, bicara dengan nada haru.

"Saya sangat berharap fase berikutnya ini memberikan kejelasan dan kedamaian yang sangat kami rindukan bagi kami dan orang-orang terkasih sejak 8 Maret 2014," ungkapnya.

Rasanya, setelah sekian lama, semua orang cuma pengin tutup buku dengan jawaban yang pasti. Entah pencarian kali ini akan berakhir seperti apa.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar