Memang, GAM menegaskan mereka tetap mengakui kedaulatan Indonesia dalam mengkoordinir penanganan bencana di wilayahnya. Namun begitu, keadaan darurat seperti ini butuh respons yang cepat dan efektif. Nyawa orang banyak taruhannya. Kerja sama internasional, dalam pandangan mereka, adalah sebuah keharusan untuk mencegah hal yang lebih buruk.
Mereka juga mengingatkan kembali semangat MoU Helsinki 2005. Meski dokumen perdamaian itu tidak secara hitam-putih mengatur soal bantuan bencana, semangat dasarnya adalah kolaborasi yang terbuka antara Aceh, pemerintah pusat, dan komunitas global.
"Hambatan terhadap akses bantuan kemanusiaan internasional menimbulkan pertanyaan mengenai komitmen Indonesia terhadap prinsip-prinsip tersebut," ujar Johan Makmor.
Di sisi lain, GAM berharap dunia memandang persoalan ini murni dari sudut pandang kemanusiaan. Bukan dari kepentingan politik apa pun. Pesan terakhir mereka jelas: jangan biarkan krisis ini berubah menjadi tragedi yang lebih besar lagi. Semuanya demi menyelamatkan nyawa.
Artikel Terkait
Vape dan Whip Pink: Bom Waktu Kesehatan yang Bersembunyi di Balik Kemasan Akrab
Dari Tuduhan Spons ke Kediaman Gubernur: Kisah Pedagang Es Gabus yang Berbalik Nasib
Kengerian di Dusun Pengkol: Bocah Tewas Tenggelam, Ibu Kritis Usai Perampokan Sadis
Bayi Dibawa Naik Motor Sambil Dikepung Asap Rokok, Pasangan Ini Malah Amuk Saat Ditegur