ucap Ium lirih. Dua jenazah bahkan harus langsung dimakamkan tanpa identitas. Tak ada keluarga yang datang untuk mengenali, atau mungkin keluarganya sendiri juga menjadi korban.
Di lokasi, pemandangannya menyedihkan sekaligus menggetarkan. Ada yang mencangkul tanah basah, ada yang mengangkat kantong jenazah dengan hati-hati. Sebagian lagi hanya bisa berdiri di tepi liang lahat, mata berkaca-kaca, bibir berkomat-kamit. Sebuah kesedihan yang sunyi, tapi di dalamnya ada keteguhan yang luar biasa. Di saat seperti ini, solidaritas jadi satu-satunya tiang penyangga.
Namun begitu, pemakaman massal ini bukanlah akhir dari duka. Ia hanya satu babak yang harus dilalui. Evakuasi masih terus berjalan di titik-titik yang sulit dijangkau. Jumlah korban, sayangnya, masih mungkin bertambah.
Kini, di balik gundukan tanah basah yang baru ditutup itu, terbaring puluhan cerita. Cerita hidup yang terhenti terlalu cepat. Tanah itu menjadi monumen tanpa nama, sebuah pengingat pilu tentang betapa dahsyatnya amukan alam. Tapi juga, tentang keteguhan manusia yang tetap berusaha berdiri, meski di atas puing kehancuran.
Artikel Terkait
Smartwatch Berdetak, Harapan Keluarga Korban Kecelakaan Pesawat di Bulusaraung Masih Menyala
Keluarga Co-pilot ATR 42-500 Berharap pada Detak Smartwatch dan Permohonan kepada Presiden
Koper Ratusan Miliar dan Bupati yang Akhirnya Terjaring OTT KPK
Pesan Terakhir Deden: Jaga Anak-Anak dan Doa yang Tak Pernah Terdengar