Bau lumpur dan duka masih menggantung di udara Kampung Tengah, Palembayan, Agam. Daratan yang hancur oleh banjir bandang dan longsor kini menyisakan sepetak lahan kosong. Lahan itu, yang sebelumnya tak berarti, telah berubah dalam hitungan hari. Ia menjadi peristirahatan terakhir bagi puluhan korban yang tak lagi bernyawa.
Mereka menyebutnya "arus galodo" yang melanda akhir November lalu. Dan kini, di awal Desember, warga terpaksa mengambil keputusan yang paling berat. Dengan peralatan seadanya, tanpa menunggu bantuan logistik yang sempurna, mereka memakamkan jenazah secara massal. Tujuannya jelas: mencegah pembusukan dan ancaman penyakit di tengah kondisi yang sudah begitu parah.
Sejak Sabtu lalu, kerja bergantian tak henti. Mereka menggali tanah lembek, menata jenazah, lalu mengantarnya dengan doa-doa sederhana. Cuaca tak bersahabat, tapi langkah mereka tak bisa berhenti.
Kata Ium, seorang warga yang terlibat langsung. Setiap temuan, katanya, seperti menyayat hati masyarakat yang sudah terluka.
Proses pencarian dan identifikasi memang berjalan sangat sulit. Bahkan, boleh dibilang nyaris mustahil untuk beberapa korban. Banyak jenazah ditemukan dalam keadaan tidak utuh. Hanya potongan tubuh.
Artikel Terkait
Smartwatch Berdetak, Harapan Keluarga Korban Kecelakaan Pesawat di Bulusaraung Masih Menyala
Keluarga Co-pilot ATR 42-500 Berharap pada Detak Smartwatch dan Permohonan kepada Presiden
Koper Ratusan Miliar dan Bupati yang Akhirnya Terjaring OTT KPK
Pesan Terakhir Deden: Jaga Anak-Anak dan Doa yang Tak Pernah Terdengar