Belum selesai dengan thrifting, kini muncul lagi kasus baru. Beras impor ilegal sebanyak 250 ton berhasil menyusup lewat Pelabuhan Sabang, Aceh. Diduga, beras ini berasal dari Thailand.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengaku mendapat laporan tersebut sekitar pukul 14.00 WIB. "Itu 250 ton tanpa izin dari pusat, tanpa persetujuan pusat," ungkapnya.
Di sisi lain, Purbaya tak hanya mengandalkan ancaman. Ia mulai menerapkan teknologi berbasis AI di operasional Bea Cukai. Langkah ini diharapkan bisa menyederhanakan proses kepabeanan dan mendeteksi praktik underinvoicing dengan lebih cepat.
"Nanti underinvoicing akan cepat terdeteksi, sambil kami perbaiki yang lain," tutupnya.
Teknologi mungkin jadi jawaban. Tapi waktu terus berjalan, dan tekanan semakin besar. Apakah transformasi ini bisa menyelamatkan ribuan pekerjaan? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Artikel Terkait
Sumut Berduka: 17 Tewas dan Ribuan Mengungsi Akibat Longsor-Banjir Bandang
Ibu Arum dan Pengakuan Getir: Dibohongi Suami yang Ternyata Pembunuh Anaknya
Ibu Hamil di Papua Tewas Usai Ditampung Empat Rumah Sakit
Dedi Mulyadi Ungkap Terima Kasih dan Permintaan Maaf untuk Para Guru