Kongres AS Desak Kajian Biaya Perang Iran yang Capai Rp33,7 Triliun per Hari

- Rabu, 11 Maret 2026 | 04:00 WIB
Kongres AS Desak Kajian Biaya Perang Iran yang Capai Rp33,7 Triliun per Hari

TEHERAN Konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran semakin panas. Tapi, ada satu pertanyaan besar yang menggelayuti Washington: berapa sebenarnya biaya yang harus mereka tanggung untuk perang ini?

Angkanya ternyata fantastis. Dari dua sumber di Kongres yang berbicara kepada media AS, perkiraan biayanya bisa mencapai 1 miliar dolar AS per hari. Bayangkan, Rp 16,8 triliun habis begitu saja dalam 24 jam. Bahkan, sehari setelahnya, laporan dari Politico menyebutkan kekhawatiran lain di kalangan Partai Republik. Mereka menduga Pentagon bisa menghabiskan hampir 2 miliar dolar AS setiap harinya. Itu setara dengan Rp 33,7 triliun.

Di tengah hiruk-pikuk ini, suara kritik mulai terdengar lantang. Pemimpin Minoritas DPR AS, Hakeem Jeffries, tak sungkan menyampaikan kecamannya.

“Presiden Donald Trump sedang menjerumuskan Amerika ke dalam konflik tanpa akhir di Timur Tengah,” ujarnya dalam konferensi pers di Capitol Hill pekan lalu.
“Miliaran dolar dihabiskan untuk membombardir Iran. Namun mereka tidak bisa menemukan satu sen pun untuk membuat layanan kesehatan lebih terjangkau bagi rakyat Amerika ketika mereka membutuhkan dokter.”
“Tidak ada dana untuk membantu warga Amerika yang bekerja keras membeli rumah pertama mereka, dan tidak ada dana untuk menurunkan harga kebutuhan pokok.”

Kutipan Jeffries itu dilansir Al Jazeera, Selasa (10/3/2025). Kritiknya tajam, menyentuh langsung isu domestik yang seolah terabaikan.

Padahal, Trump terpilih lagi di 2024 dengan janji utama menurunkan biaya hidup. Ironisnya, popularitasnya justru menurun. Survei Reuters/Ipsos yang digelar tak lama setelah serangan ke Iran pada 28 Februari mengonfirmasi hal ini: dukungan publik AS terhadap perang ternyata sangat rendah.

Di sisi lain, Pentagon sendiri belum mengeluarkan angka resmi. Mereka masih bungkam. Tapi para analis sudah memprediksi, biaya yang membengkak ini bakal sulit diterima oleh pemilih biasa. Apalagi, pemilu paruh waktu tinggal hitungan bulan lagi.

Guna mendapatkan kejelasan, seorang anggota DPR pun bergerak. Brendan Boyle, dari Pennsylvania, yang juga anggota senior Partai Demokrat di Komite Anggaran DPR, meminta Kantor Anggaran Kongres (CBO) untuk menganalisis biaya sesungguhnya dari konflik ini.

Surat resminya tanggal 5 Maret lalu berisi permintaan yang cukup detail. Boyle ingin CBO mengkaji “biaya operasional, logistik, dan dukungan perang di Iran,” termasuk biaya langsung dan tidak langsung dari penggunaan kekuatan militer.

Tak cuma itu, ia juga minta estimasi untuk “biaya tambahan lain” seperti operasi diplomatik dan bantuan luar negeri. Yang menarik, Boyle menyoroti soal biaya peluang. Misalnya, apa dampaknya terhadap kemampuan AS merespons potensi agresi China jika kapal induk di dekat Taiwan harus dipindahkan ke kawasan Iran?

Dampak perang terhadap harga-harga juga diminta untuk dianalisis. Boyle ingin kajian ini dibuat dalam beberapa skenario. Bagaimana jika perang berlarut-larut lebih dari empat atau lima pekan? Atau, yang lebih ekstrem, bagaimana jika Amerika Serikat benar-benar mengerahkan pasukan darat ke Iran?

Permintaan Boyle ini seperti upaya untuk menarik selubung, untuk melihat gambaran utuh di balik angka-angka yang selama ini hanya jadi desas-desus. Di Capitol Hill, ketegangan politik jelas terasa. Sementara di Timur Tengah, situasi masih panas. Dan rakyat Amerika, di tengah semua ini, mungkin hanya bisa bertanya: untuk apa semua miliaran dolar ini dikeluarkan, sementara urusan di dalam negeri sendiri masih banyak yang terbengkalai?

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar