Purbaya Beri Sinyal PHK Massal, 16 Ribu Pekerja Bea Cukai Terancam Dirumahkan

- Minggu, 30 November 2025 | 20:45 WIB
Purbaya Beri Sinyal PHK Massal, 16 Ribu Pekerja Bea Cukai Terancam Dirumahkan

Jakarta - Langkah tegas Menteri Keuangan Purbaya Yudhi menyita perhatian publik. Ia tak segan mengancam akan merumahkan belasan ribu pegawai Bea Cukai jika institusi ini tak segera berbenah.

Tekanan datang dari mana-mana. Masuknya barang impor ilegal ke Tanah Air kian menjadi-jadi, mulai dari barang thrifting sampai beras impor yang membanjiri pasar. Purbaya tampaknya sudah kehilangan kesabaran.

"Kalau Bea Cukai tidak bisa memperbaiki kinerjanya dan masyarakat masih nggak puas, Bea Cukai bisa dibekukan, diganti dengan SGS seperti zaman dulu lagi," ujarnya dengan nada tinggi.

Ancaman itu nyata. Ribuan orang bisa kehilangan mata pencaharian.

"Kalau kita gagal memperbaiki, nanti 16.000 orang pegawai Bea Cukai dirumahkan," tambahnya tanpa tedeng aling-aling.

Persoalan impor ilegal ini ibarat bom waktu. Di satu sisi, barang thrifting masih jadi perhatian serius. Meski sempat ada wacana mengelola barang sitaan menjadi bahan daur ulang, tapi itu belum cukup. Masih banyak lubang yang harus ditambal.

Belum selesai dengan thrifting, kini muncul lagi kasus baru. Beras impor ilegal sebanyak 250 ton berhasil menyusup lewat Pelabuhan Sabang, Aceh. Diduga, beras ini berasal dari Thailand.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengaku mendapat laporan tersebut sekitar pukul 14.00 WIB. "Itu 250 ton tanpa izin dari pusat, tanpa persetujuan pusat," ungkapnya.

Di sisi lain, Purbaya tak hanya mengandalkan ancaman. Ia mulai menerapkan teknologi berbasis AI di operasional Bea Cukai. Langkah ini diharapkan bisa menyederhanakan proses kepabeanan dan mendeteksi praktik underinvoicing dengan lebih cepat.

"Nanti underinvoicing akan cepat terdeteksi, sambil kami perbaiki yang lain," tutupnya.

Teknologi mungkin jadi jawaban. Tapi waktu terus berjalan, dan tekanan semakin besar. Apakah transformasi ini bisa menyelamatkan ribuan pekerjaan? Hanya waktu yang bisa menjawab.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar