Dedi Mulyadi Bentuk Tim Kaji Hari Lahir Jawa Barat, Terinspirasi Jejak Sri Baduga

- Senin, 24 November 2025 | 13:45 WIB
Dedi Mulyadi Bentuk Tim Kaji Hari Lahir Jawa Barat, Terinspirasi Jejak Sri Baduga

Bandung - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mulai membentuk tim khusus untuk mengkaji hari lahir provinsi tersebut. Langkah ini terinspirasi oleh Kabupaten Bogor yang sebelumnya telah menetapkan momen kelahirannya berdasarkan pelantikan Sri Baduga sebagai raja.

Sabtu lalu, tepatnya 22 November 2025, Gedung Sate menjadi saksi sebuah pertemuan penting. Musyawarah Majelis Sunda (MMS) menggelar Musyawarah Tahunan ke-II di sana. Forum ini menghadirkan berbagai tokoh kunci yang membahas masa depan Sunda.

Hadir dalam kesempatan itu Wakil Menteri Dalam Negeri RI, Komjen Pol Purn Akhmad Wiyagus. Tak ketinggalan, Presidium Pinisepuh MMS Burhanudin Abdullah dan Pinisepuh MMS sekaligus Ketua Perkumpulan Urang Banten Irjen Pol Purn Taufiequrachman Ruki juga hadir. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sendiri hadir langsung dan memberikan sambutan.

Dedi Mulyadi menyambut positif gagasan-gagasan yang dilontarkan MMS. Menurutnya, berbagai pemikiran itu akan memperkaya khazanah kebudayaan Jawa Barat.

"Seperti soal penataan sungai, pembenahan sungai dari Karawang, Indramayu hingga Bogor dimulai. Masukan ini akan memperkaya khazanah," jelas Dedi.

Dia menegaskan bahwa penataan sungai dan hutan di Jawa Barat sudah menjadi kebutuhan mendesak. Langkah ini diyakininya dapat mengembalikan jati diri masyarakat Sunda yang sejak dulu lekat dengan alam.

"Saya menata air agar dapat mengalir kembali, bangunan yang menghalangi bakal dibongkar semua. Memuliakan peradaban air," tegasnya dengan nada mantap.

Gubernur menambahkan, biaya pemulihan sungai dan hutan memang besar. Namun, keuntungan menyewakan bantaran sungai atau kawasan hutan tak sebanding dengan manfaat jangka panjang pemulihan lingkungan. Investasi pada alam, katanya, jauh lebih penting untuk keberlanjutan.

Dia juga mengingatkan para pengelola hutan untuk mengembalikan fungsi lahan sebagai ruang hijau yang kaya keanekaragaman hayati. Kawasan hutan tidak boleh lagi didominasi tanaman yang hanya berorientasi produksi semata.

Di sisi lain, langkah Dedi membentuk tim pengkaji hari lahir Jawa Barat mulai bergulir. Inspirasinya datang dari Bogor yang menetapkan momen kelahiran daerah berdasarkan pelantikan Sri Baduga.

"Nah, kalau Sunda arahnya Siliwangi, harus ke sana," ujar Dedi Mulyadi.

Presidium Pinisepuh MMS Dindin S. Maolani memberikan pandangan tersendiri. Menurutnya, persoalan identitas dan kehidupan masyarakat Sunda kini telah menjadi masalah besar yang saling terkait, tidak lagi terpisah-pisah.

Didin memaparkan beragam persoalan yang dihadapi wilayah Sunda Raya. Mulai dari ketimpangan fiskal dalam pemanfaatan sumber daya alam, tata ruang yang terus dieksploitasi tanpa pemerataan manfaat, hingga kebudayaan yang semakin terpinggirkan. Pendidikan yang tertinggal dan ekonomi masyarakat yang rapuh juga menjadi perhatian serius.

Sebagai bentuk komitmen, MMS menyerahkan dokumen manifesto langsung kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Penyerahan ini disaksikan para tokoh yang hadir.

Dokumen tersebut merupakan hasil rangkuman Sawala Maya I dan II, plus musyawarah lanjutan di Unpad pada 15 November 2025. Isinya memuat empat agenda strategis menyongsong Indonesia Emas 2045:

Pertama, penguatan jati diri dan pemajuan kebudayaan Sunda. Ini mencakup revolusi pendidikan karakter Sunda, kebijakan afirmatif terhadap bahasa dan toponimi, serta inisiasi dana abadi kebudayaan Sunda Raya.

Kedua, mendorong keadilan pusat-daerah melalui konsep Sunda jeung Sarakan jeung Sunda jang Negara. Pelaksanaannya meliputi reforma keadilan fiskal nasional dan integrasi Sunda Raya melalui konsep kerja sama ala Benelux.

Ketiga, peningkatan kesejahteraan bersama. Termasuk audit menyeluruh proyek strategis nasional di wilayah Sunda dan reforma agraria kultural yang memberi ruang ekonomi rakyat.

Keempat, penguatan sistem kepemimpinan Sunda. MMS mengusulkan pembentukan Sunda Leadership Institute dan konsolidasi fraksi Sunda Raya di parlemen.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar