SURABAYA Ada yang terasa beda dari atmosfer Persebaya jelang laga pekan ke-29 Super League 2025/2026. Bukan soal lawan, bukan pula soal tempat bertanding. Tapi lebih pada apa atau siapa yang hilang. Laga melawan Malut United di Stadion Gelora Kie Raha, Ternate, bukan sekadar laga tandang biasa. Ini ujian sesungguhnya bagi Bernardo Tavares.
Pelatih asal Portugal itu harus menghadapi kenyataan pahit. Dua pemain kunci dipastikan absen. Gali Freitas dan Rachmat Irianto. Dua nama yang selama ini jadi nyawa permainan Green Force. Dan kehilangan mereka terjadi di saat kompetisi memasuki fase paling krusial.
Gali Freitas? Ya, winger eksplosif itu harus menepi. Bukan karena cedera, tapi karena akumulasi kartu kuning. Empat kartu kuning di pertandingan berbeda cukup untuk membuatnya terkena sanksi larangan tampil. Regulasi memang begitu. Tapi konsekuensinya berat. Kecepatan Gali di sisi sayap, kemampuannya duel satu lawan satu, serta agresivitasnya membongkar pertahanan lawan itu semua hilang dalam sekejap.
Kalau kehilangan Gali sudah bikin pusing, absennya Rachmat Irianto bikin situasi makin runyam. Rian begitu ia biasa disapa harus menjalani operasi lutut kanan. Musimnya berakhir lebih cepat dari seharusnya.
Cedera yang dialami Rian ternyata bukan cedera biasa. Menurut Chief Medical Officer Persebaya, dr. Pratama Wicaksana Wijaya, ada komplikasi yang dikenal sebagai cyclops lesion. Kondisi ini muncul setelah rekonstruksi ACL yang pernah dijalani Rian.
“Cyclops lesion. Kondisi ini merupakan komplikasi yang cukup jarang terjadi setelah tindakan rekonstruksi ACL. Rian sebelumnya mengalami cedera ACL saat masih bersama tim sebelumnya pada akhir musim lalu, sudah menjalani operasi dan proses rehabilitasi dengan baik,” jelasnya.
Sempat pulih, memang. Tapi komplikasi lanjutan memaksa tim medis mengambil langkah tegas. Operasi ulang. Keputusan ini tidak diambil secara tiba-tiba. Ada diskusi panjang antara tim medis, manajemen, dan pelatih.
“Syukurnya Rian masih sempat memberikan kontribusi saat menghadapi Persita dan Persija. Setelah melalui diskusi antara tim medis, manajemen, dan pelatih, akhirnya diputuskan operasi dilakukan sekarang sebelum kompetisi berakhir,” tambahnya.
Sepanjang musim, Rian tampil dalam 20 pertandingan. Ia bukan sekadar pemain pelapis. Ia elemen penting dalam menjaga keseimbangan tim. Fleksibilitasnya bisa bermain di lini tengah maupun belakang sering jadi solusi dalam berbagai situasi taktis. Tanpa dia, ada lubang yang sulit ditambal.
Kini, tanpa Gali dan Rian, kedalaman skuad Persebaya benar-benar diuji. Bernardo Tavares harus mencari formula baru. Formula yang tetap bisa menjaga keseimbangan, baik saat bertahan maupun menyerang.
Kemungkinan besar, pendekatan taktik akan berubah. Tanpa winger eksplosif seperti Gali, Persebaya mungkin harus lebih mengandalkan permainan kolektif. Distribusi bola lebih cepat. Variasi serangan dari lini kedua. Sementara absennya Rian? Bisa memaksa perubahan struktur di lini tengah atau bahkan pertahanan.
Di sisi lain, Malut United bukan lawan yang bisa dianggap enteng. Apalagi saat bermain di kandang. Stadion Gelora Kie Raha punya atmosfer yang cukup menekan. Dukungan suporter tuan rumah, ditambah karakter permainan agresif mereka, jadi tantangan tersendiri.
Jadi, pertandingan ini bukan cuma soal kualitas pemain. Lebih dari itu. Soal strategi, adaptasi, dan mentalitas. Bernardo Tavares harus bisa membaca permainan dengan cermat. Rotasi yang tepat. Disiplin tinggi dari setiap pemain.
Dalam situasi seperti ini, detail kecil bisa jadi penentu. Kesalahan individu, kurangnya koordinasi, atau peluang yang terbuang semua bisa berakibat fatal. Sebaliknya, organisasi permainan yang solid dan efisiensi di depan gawang bisa jadi kunci mencuri poin.
Laga yang akan digelar Kamis (23/4/2026) pukul 19.00 WIB ini pada akhirnya jadi panggung pembuktian. Bukan cuma bagi pemain pengganti yang dapat kesempatan. Tapi juga bagi sang pelatih.
Apakah Bernardo Tavares mampu menunjukkan kejeniusannya meramu strategi di tengah keterbatasan? Atau justru absennya dua pemain kunci jadi faktor yang terlalu besar untuk diatasi?
Jawabannya akan ditentukan di atas lapangan. Tapi satu hal yang pasti: Persebaya tidak punya pilihan selain berjuang. Karena di fase seperti ini, setiap poin bisa menentukan arah musim mereka. Dan kadang, dari situasi yang paling sulit, justru lahir cerita yang tak terduga.
Artikel Terkait
Megawati Hangestri Buru Klub Baru di V-League, Red Sparks Terancam Kehilangan Bintangnya
Janice Tjen Hadapi Ujian Berat di Debut Madrid Open Lawan Alina Charaeva
Chelsea Hancur 0-3 di Brighton, Peluang Liga Champions Semakin Pupus
Real Madrid Tahan Ketegangan, Kalahkan Alaves 2-1 untuk Kokohkan Puncak Klasemen