Cucun Ahmad Syamsurijal: Pernyataan Kontroversial Tak Butuh Ahli Gizi yang Bikin Heboh

- Selasa, 18 November 2025 | 13:15 WIB
Cucun Ahmad Syamsurijal: Pernyataan Kontroversial Tak Butuh Ahli Gizi yang Bikin Heboh
Profil dan Kontroversi Cucun Ahmad Syamsurijal: Pernyataan Soal Ahli Gizi dan Anak Muda - Info Lengkap

Profil Cucun Ahmad Syamsurijal dan Pernyataan Kontroversial Soal Ahli Gizi

Cucun Ahmad Syamsurijal, Wakil Ketua DPR RI, menjadi sorotan publik setelah membuat pernyataan kontroversial mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG). Politikus ini menyatakan bahwa program tersebut tidak memerlukan ahli gizi dan menanggapi kritik dengan menyebut anak muda sebagai pribadi yang arogan.

Kronologi Kontroversi Cucun Ahmad Syamsurijal

Kontroversi ini bermula dalam Rapat Konsolidasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Seorang peserta rapat yang memiliki latar belakang di bidang gizi memberikan masukan mengenai pentingnya peran ahli gizi dalam program pemerintah tersebut.

Peserta tersebut menyarankan agar jika posisi pengawas di SPPG akan diisi oleh orang tanpa latar belakang pendidikan gizi, sebaiknya tidak menggunakan embel-embel "ahli gizi". Dia mengusulkan istilah seperti "pengawas produksi" atau "quality control" sebagai alternatif yang lebih tepat.

Namun, sebelum peserta tersebut menyelesaikan paparannya, Cucun Ahmad Syamsurijal memintanya untuk berhenti berbicara. "Cukup ya? Kamu itu (bicaranya) terlalu panjang. Yang lain kasihan," ujar Cucun kepada peserta tersebut.

Pernyataan Kontroversial Cucun Tentang Ahli Gizi

Tak hanya menginterupsi, Cucun kemudian memberikan respons yang menuai kritik. Dia menyatakan ketidaksukaannya terhadap anak muda yang dianggapnya arogan dan menegaskan bahwa pembuat kebijakan adalah dirinya selaku Wakil Ketua DPR.

"Saya nggak suka anak muda arogan kayak gini. Mentang-mentang kalian sekarang dibutuhkan negara, kalian bicara undang-undang. Pembuat kebijakan itu saya," tegas Cucun.

Lebih lanjut, politikus PKB ini menyatakan akan mengubah diksi "ahli gizi" menjadi "tenaga yang menangani gizi" dalam program MBG. Menurutnya, program tersebut tidak memerlukan ahli gizi dan bisa diisi oleh lulusan SMA yang diberi pelatihan selama tiga bulan.

"Tidak perlu ahli gizi. Cocok nggak? Nanti saya selesaikan di DPR," tutur Cucun. "Bila perlu di sini, di kabupaten itu, punya anak-anak yang fresh graduate, anak-anak SMA cerdas, dilatih sertifikasi, saya siapkan BSNP. (Program MBG) tidak perlu kalian (ahli gizi) yang sombong seperti ini."

Profil dan Latar Belakang Cucun Ahmad Syamsurijal

Cucun Ahmad Syamsurijal adalah politikus kelahiran Bandung, 11 Agustus 1972. Dia terpilih sebagai anggota DPR RI periode 2014-2019 dari Daerah Pemilihan Jawa Barat II mewakili Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Di awal masa jabatannya, Cucun bertugas di Komisi IV DPR RI yang membidangi sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, kelautan, perikanan, dan pangan. Pada Mei 2016, dia kemudian dipindahkan ke Komisi V DPR RI yang mengurus perhubungan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, pembangunan pedesaan, kawasan tertinggal, serta meteorologi dan klimatologi.

Karier organisasi Cucun cukup panjang, terutama di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Dia telah aktif di NU sejak 1988 di wilayah Solokan. Cucun pernah menjabat sebagai Bendahara Umum Pengurus Cabang NU Kabupaten Bandung (2004-2009) dan Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Perekonomian NU (LPNU) pada periode 2005-2010.

Di PKB, dia juga memegang berbagai posisi strategis, termasuk Wakil Bendahara Umum PKB Kabupaten Bandung (2005-2010) dan Ketua Dewan Pengurus Cabang PKB Kabupaten Bandung (2010-2015). Selain berkarier di politik, Cucun juga terlibat dalam dunia bisnis sebagai Direktur PT GSM dan Manager marketing PT HS.

Untuk kekayaannya, Cucun Ahmad Syamsurijal telah melaporkan harta senilai Rp22 miliar pada tahun 2024. Pernyataan kontroversialnya mengenai program Makan Bergizi Gratis dan ahli gizi ini telah menjadi perbincangan publik dan menuai berbagai reaksi di media sosial.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar