Kritik Menguat soal Pemanggilan Muhammad Ferarri ke Timnas: Minim Menit Bermain dan Cedera Jadi Sorotan

- Senin, 08 Juni 2026 | 16:30 WIB
Kritik Menguat soal Pemanggilan Muhammad Ferarri ke Timnas: Minim Menit Bermain dan Cedera Jadi Sorotan

Pemanggilan Muhammad Ferarri ke skuad Timnas Indonesia kembali menuai sorotan tajam di tengah kondisi pemain belakang tersebut yang masih berkutat dengan cedera dan minimnya menit bermain di level klub. Keputusan ini memicu perdebatan publik, terutama setelah komentator sepak bola Tanah Air secara terbuka mempertanyakan dasar seleksi yang digunakan oleh pelatih tim senior.

Bung Towel, pengamat sepak bola yang kerap melontarkan kritik pedas, menilai bahwa pemanggilan Ferarri tidak didasarkan pada pertimbangan yang rasional. Menurutnya, performa terkini seharusnya menjadi tolok ukur utama dalam menentukan pemain yang layak membela negara, bukan sekadar potensi atau nama besar.

“Dasarnya apa memanggil Ferarri? Dia lama cedera, lalu menit bermain juga kurang, tetapi tetap dipanggil. Bukankah untuk level senior yang dilihat adalah performa, bukan potensi?” ujar Bung Towel dalam pernyataannya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa konsistensi bermain di klub merupakan indikator penting untuk mengukur kesiapan seorang pemain menghadapi persaingan ketat di kancah internasional. Dalam sepak bola modern, kata dia, tidak ada ruang bagi pemain yang tidak bugar atau minim jam terbang.

Perdebatan ini kemudian membelah opini publik menjadi dua kubu. Sebagian pihak sepakat dengan kritik Bung Towel bahwa performa klub harus menjadi prioritas utama dalam seleksi pemain. Namun, tidak sedikit pula yang membela keputusan pelatih dengan alasan bahwa Ferarri masih memiliki kualitas dan pengalaman internasional yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Muhammad Ferarri sendiri bukanlah nama asing di sepak bola Indonesia. Lahir di Jakarta pada 21 Juni 2003, ia telah menorehkan prestasi sejak usia muda dengan membela berbagai kelompok umur Timnas Indonesia. Fleksibilitas posisinya sebagai bek tengah maupun bek kanan menjadi nilai tambah yang kerap dipertimbangkan oleh pelatih.

“Pelatih tentu memiliki pertimbangan tersendiri saat memanggil pemain. Selain performa, faktor kebutuhan taktik, karakter bermain, pengalaman di lingkungan tim nasional, hingga fleksibilitas posisi juga sering menjadi pertimbangan penting,” ujar salah satu pendukung Ferarri.

Karier Ferarri mulai mencuri perhatian saat membela Persija Jakarta dengan 71 penampilan di level senior sebelum bergabung dengan Bhayangkara FC pada 2025. Hingga Januari 2026, ia telah tampil dalam 12 pertandingan bersama klub barunya. Di level internasional, rekam jejaknya cukup mengesankan. Ia membela Timnas U-20 dalam 20 pertandingan dengan lima gol, dan Timnas U-23 dengan 25 caps serta dua gol, termasuk menjadi bagian penting skuad peraih medali emas SEA Games 2023. Di tim nasional senior, ia telah mengumpulkan delapan penampilan dan dua gol.

Dengan nilai pasar sekitar Rp4,35 miliar, Ferarri masih memiliki waktu panjang untuk membuktikan kualitasnya di level klub maupun bersama Timnas Indonesia. Namun, perdebatan yang muncul kali ini mencerminkan tingginya perhatian publik terhadap setiap keputusan seleksi pemain, terutama ketika menyangkut pemain yang sedang berjuang kembali ke performa terbaik setelah cedera.

Kini, yang paling dinantikan adalah apakah Ferarri mampu menjawab keraguan tersebut melalui penampilan di lapangan. Sebab pada akhirnya, performa dalam pertandingan adalah jawaban terbaik bagi setiap perdebatan yang muncul.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar