Ruang kuliah di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin pada Jumat (22/5/2026) mendadak terasa berbeda. Bukan semata karena kehadiran Munafri Arifuddin sebagai pembicara, melainkan cerita yang ia bawakan begitu personal, jujur, dan dekat dengan realitas anak muda yang tengah merancang masa depan.
Di hadapan ratusan mahasiswa, pria yang akrab disapa Appi itu tidak sekadar berbicara soal pemerintahan, hukum, atau pembangunan kota. Ia membuka lembar demi lembar perjalanan hidupnya tentang kegagalan, rasa malu, perjuangan ekonomi, hingga keyakinan bahwa mimpi besar tidak pernah datang secara instan. Kuliah umum bertema “Sinergi Pemerintahan, Hukum dan Entrepreneurship dalam Menciptakan Inovasi Pemerintahan yang Berdampak di Kota Makassar” itu pun berubah menjadi ruang refleksi tentang arti bertahan dan terus melangkah.
Appi mengawali kisahnya dengan menegaskan bahwa kesuksesan tidak lahir dari keberuntungan sesaat. Menurutnya, keberhasilan dibangun melalui visi yang jelas, disiplin, dan kebiasaan positif yang dilakukan secara terus-menerus.
“Kesuksesan adalah perjalanan yang dibangun melalui visi yang jelas, konsistensi, dan ketekunan. Tidak ada jalan pintas untuk mencapainya. Semua dibangun lewat perencanaan dan kebiasaan positif yang dilakukan setiap hari,” ujar Appi.
Sebagai Wali Kota Makassar, ia melihat masa depan kota sangat bergantung pada lahirnya lebih banyak entrepreneur muda. Menurutnya, Makassar selama ini tumbuh sebagai kota perdagangan dan jasa. Karena itu, keberanian anak muda membangun usaha menjadi salah satu fondasi penting pertumbuhan daerah. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Makassar pada 2025 pernah berada di angka 5,3 persen lebih tinggi dibanding pertumbuhan nasional maupun Sulawesi Selatan kala itu. Selain itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Makassar juga berada dalam kategori tinggi dan masuk tujuh besar nasional.
“Kota ini tumbuh dari perdagangan dan jasa. Karena itu kita membutuhkan lebih banyak entrepreneur, lebih banyak pengusaha,” lanjutnya.
Di mata Appi, ilmu hukum yang dipelajari mahasiswa tidak hanya penting untuk profesi advokat atau hakim. Ia menilai hukum justru menjadi pondasi penting dalam dunia usaha dan pengambilan keputusan. “Hukum menjadi rambu-rambu kita dalam melangkah, mengetahui mana yang benar dan mana yang salah,” tuturnya.
Namun, bagian paling menarik dari kuliah umum itu hadir ketika Appi mulai berbicara tentang kegagalan politiknya. Ia tidak menutupinya, tidak pula mencoba memperhalus kenyataan pahit yang pernah ia alami. Ia mengaku menjadi salah satu figur politik yang tiga kali maju dalam Pilkada hanya dalam rentang enam tahun.
Tahun 2018 menjadi momen yang paling membekas dalam hidupnya. Saat itu ia maju sebagai calon Wali Kota Makassar dan menghadapi fenomena langka dalam sejarah politik Indonesia: melawan kotak kosong.
“Tahun 2018 saya maju sebagai calon Wali Kota Makassar. Lawannya kotak kosong, dan saya kalah oleh kotak kosong,” ungkapnya disambut riuh peserta kuliah umum.
Kekalahan itu bukan hanya menyakitkan secara politik, tetapi juga secara emosional. Appi mengaku sempat kehilangan rasa percaya diri untuk bertemu orang banyak. “Selama tujuh bulan saya tidak pernah ke warung kopi. Bukan karena kalahnya, tapi malunya. Setiap ada orang berbisik saya merasa dibicarakan sebagai orang yang kalah dari kotak kosong,” kenangnya.
Namun, justru dari titik itu ia belajar menerima kenyataan dan bangkit perlahan. Dua tahun berselang, ia kembali maju di Pilkada Makassar 2020 bersama Rahman Bando. Situasi pandemi COVID-19 membuat seluruh pola kampanye berubah drastis. “Tahun 2020 saya kalah lagi,” ujarnya.
Dua kali kalah tidak membuat Appi berhenti. Ia memilih bertahan dan terus membangun komunikasi politik hingga akhirnya kembali maju pada Pilkada 2024 bersama Aliyah Mustika Ilham. Kali ini perjuangan panjangnya berbuah kemenangan dengan raihan sekitar 54 persen suara.
“Tidak ada perjuangan yang dilakukan sampai tuntas yang berakhir sia-sia. Berjuanglah sampai tuntas untuk mendapatkan apa yang kalian inginkan,” pesannya kepada mahasiswa. Kalimat itu menjadi inti dari seluruh perjalanan hidup yang ia bagikan siang itu bahwa mimpi tidak selalu datang cepat, tetapi harus diperjuangkan terus-menerus.
“Kalau kita mendapatkan mimpi kita, kita tidak akan pernah lelah menjalaninya karena yang kita dapat adalah mimpi terbaik kita,” ucap Appi.
Di balik karier politik dan posisinya sekarang, Appi juga mengingat masa mudanya yang jauh dari kemewahan. Ia berasal dari keluarga sederhana dengan pola hidup disiplin. Bahkan saat kuliah di Fakultas Hukum Unhas, orang tuanya hanya mampu membayar biaya satu semester pertama. Sisanya harus ia perjuangkan sendiri. “Ia masuk Fakultas Hukum, orang tua cuma membayar satu semester. Setelah itu sampai selesai saya bayar sendiri sambil bekerja sebagai penyiar radio.”
Pengalaman hidup itu membuatnya terbiasa bekerja keras sejak muda. Bahkan ketika masuk ke dunia sepak bola profesional bersama PSM Makassar, ia mengaku sempat minder karena kemampuan bahasa Inggrisnya terbatas. Namun, keterbatasan itu justru memaksanya belajar lebih keras. Pengalaman tersebut kemudian membawanya dipercaya memimpin perusahaan hingga menjadi perwakilan kehormatan Republik Kroasia di Indonesia.
Dalam dunia sepak bola, nama Appi juga melekat dengan kebangkitan PSM Makassar sejak 2016. Saat itu, klub kebanggaan Sulawesi Selatan sedang berada dalam masa sulit akibat sanksi FIFA dan kondisi internal yang tidak stabil. Appi melakukan perubahan besar-besaran. Ia membenahi manajemen, mengganti struktur tim, dan menghadirkan sejumlah pelatih yang kemudian menjadi bagian penting perjalanan PSM, seperti Robert Alberts, Darije Kalezic, Bojan Hodak, hingga Bernardo Tavares. Perlahan, perubahan itu membuahkan hasil. PSM kembali disegani dan berhasil mengakhiri puasa gelar panjang. “Tahun 2019 setelah 19 tahun tanpa trofi, PSM akhirnya juara Piala Indonesia,” bebernya.
Menjelang akhir kuliah umum, Appi kembali mengingatkan mahasiswa bahwa relasi, keberanian mencoba, dan konsistensi belajar adalah modal penting menghadapi masa depan. Ia berharap mahasiswa Fakultas Hukum Unhas tidak hanya menjadi lulusan yang pintar secara akademik, tetapi juga mampu melahirkan kebijakan publik yang berdampak bagi masyarakat luas. “Mari jadikan Fakultas Hukum Unhas sebagai motor penggerak lahirnya kebijakan publik yang cerdas, berkeadilan, dan berpihak pada rakyat,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Persib Diminta Tunda Euforia Juara, Federico Barba Ingatkan Laga Kontra Persijap Belum Mudah
Manchester United Resmi Angkat Michael Carrick sebagai Pelatih Permanen, Kontrak Dua Tahun
Madura United Hidup-Mati Hadapi PSM Makassar demi Bertahan di Liga 1
Marc Klok Beri Kode ke Bobotoh, Persib Bandung Dikaitkan dengan Eks PSV Eindhoven Bart Ramselaar