Carlo Ancelotti menepis anggapan bahwa dirinya hanyalah seorang pelatih yang mengandalkan kedekatan personal dengan pemain. Dalam wawancara dengan media Inggris, pelatih tim nasional Brasil itu menegaskan bahwa dirinya menguasai seluruh aspek permainan sepak bola secara mendalam, bukan sekadar menjadi man-manager seperti yang kerap dilekatkan padanya.
Pria berusia 66 tahun itu kini memasuki musim ketiga puluh sebagai pelatih profesional. Di usianya yang tidak lagi muda, ia justru tengah mempersiapkan proyek besar menuju Piala Dunia 2026 bersama Brasil. Kabar terbaru menyebutkan bahwa kontraknya akan diperpanjang, menjadikannya calon pelatih kepala tertua dalam sejarah tim nasional Brasil. Meski demikian, Ancelotti menegaskan bahwa dirinya belum berniat meninggalkan dunia sepak bola.
“Saya tidak bisa hidup tanpa sepak bola. Jika sudah tidak berada di lapangan, saya akan tetap menjadi penonton yang menikmati pertandingan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa menonton sepak bola di televisi bukanlah pekerjaan, melainkan kesenangan. “Bagi saya, menonton pertandingan seperti menikmati film. Rasanya sama. Saat saya berhenti bekerja di sepak bola, saya tetap akan menontonnya dengan cara yang sama, tanpa masalah,” kata dia.
Ancelotti secara tegas membantah label bahwa kesuksesannya semata-mata berasal dari hubungan baik dengan pemain. Menurutnya, hubungan personal memang penting, tetapi itu hanya satu bagian dari permainan. “Saya tidak memenangkan gelar hanya karena hubungan saya dengan pemain,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa tugas pelatih sangat kompleks karena harus mengelola hubungan dengan pemain, klub, media, dan suporter. “Yang paling sulit adalah hubungan dengan manusia, dan itu juga yang paling penting,” kata dia.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa pemahamannya terhadap sepak bola mencakup seluruh dimensi. “Saya tidak peduli orang menilai saya taktik atau bukan. Saya hanya tahu semua aspek permainan dengan sangat baik,” tegasnya. Ia juga menyoroti perubahan besar dalam sepak bola modern sejak debut profesionalnya 50 tahun lalu. Menurutnya, permainan kini jauh lebih cepat, analitis, dan fisik. “Beberapa taktik bertahan tidak sepenting 10 tahun lalu. Pelatih generasi baru lebih fokus pada serangan,” kata dia.
Sementara itu, Ancelotti juga membahas perannya bersama tim nasional Brasil. Ia mengaku sangat mengagumi budaya sepak bola negara tersebut, terutama hubungan emosional masyarakat Brasil dengan tim nasional. “Orang Brasil memiliki cinta khusus terhadap seragam kuning. Di negara lain, tim nasional tidak sepenting di Brasil,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa Brasil masih menjaga nilai-nilai budaya seperti keluarga dan agama, sesuatu yang mulai berkurang di Eropa.
Mengenai Vinicius Junior, pemain yang pernah ia latih di Real Madrid, Ancelotti ingin mengurangi beban sang pemain di tim nasional. “Vinicius memikul tanggung jawab besar untuk Brasil. Itu bisa menjadi beban. Tugas kami adalah mengurangi tekanan itu agar dia bermain dengan bebas dan penuh energi,” kata dia. Ia menegaskan bahwa Brasil tidak boleh bergantung pada satu pemain saja. “Dia pemain spektakuler yang bisa memenangkan pertandingan sendirian. Tapi kita tidak butuh satu bintang utama. Kita harus berpikir sebagai tim. Itu satu-satunya cara memenangkan Piala Dunia,” ujarnya.
Soal Neymar, Ancelotti memberi sinyal bahwa peluang tetap terbuka. “Pemanggilan Neymar hanya bergantung pada dirinya. Itu tergantung apa yang dia tunjukkan di lapangan. Itu berlaku untuk semua pemain. Dengan Neymar, kami hanya menilai kondisi fisiknya karena bakatnya tidak diragukan,” kata dia. Ia juga menyebut Thiago Silva masih dalam radar tim nasional meski usianya sudah 41 tahun. “Thiago Silva bermain sangat baik, juara liga Portugal, dan dalam kondisi fisik bagus,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Ancelotti menyatakan optimisme besar terhadap skuad Brasil yang menurutnya penuh pengalaman dan kepemimpinan. “Kami punya pemain berpengalaman seperti Alisson, Casemiro, Marquinhos, dan Raphinha. Mereka pemimpin yang memberi contoh,” kata dia. Ia pun menegaskan ambisi besar Brasil di Piala Dunia 2026. “Motivasi Brasil untuk juara lagi setelah 24 tahun sangat besar. Saya yakin kami akan menjalani Piala Dunia yang hebat,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Real Madrid Sepakat dengan Mourinho, Pelatih Asal Portugal Itu Sudah Hubungi Courtois, Mbappe, dan Vinicius
Jersey Kandang Manchester United 2026-2027 Resmi Dirilis, Desain Retro Era 1970-an Banjir Pujian Suporter
Persib dan Borneo FC Diproyeksikan ke Asia, I.League Upayakan Persija Ikut ASEAN Club Championship
Leo/Daniel Satu-satunya Wakil Indonesia ke Perempatfinal Thailand Open 2026 Usai Tumbangkan China