Ketegangan yang menyelimuti publik Makassar perlahan mereda di Stadion Manahan, Sabtu malam (9/5/2026). Hasil imbang tanpa gol antara Persis Solo dan Persebaya Surabaya memastikan satu hal penting bagi PSM Makassar: Pasukan Ramang tetap bertahan di Super League musim depan.
Skor 0-0 memang bukan hasil ideal bagi kedua tim. Namun, bagi PSM, hasil itu terasa layaknya kemenangan besar setelah sebelumnya dihantam kekalahan telak 0-3 dari Arema FC di Stadion Kanjuruhan. Tambahan satu poin membuat Persis Solo kini mengoleksi 28 angka dan tertahan di posisi ke-16 klasemen sementara. Dengan hanya menyisakan dua pertandingan, poin maksimal Persis hanya bisa mencapai 34 angka jumlah yang sama dengan koleksi PSM saat ini. Meski demikian, Pasukan Ramang tetap unggul head to head atas Persis Solo, sehingga posisi mereka dipastikan aman dari ancaman degradasi.
Situasi itu menutup seluruh kemungkinan bagi Persis untuk menyalip PSM di klasemen akhir. Artinya, meskipun musim PSM penuh tekanan dan inkonsistensi, mereka berhasil mempertahankan tempat di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Hasil di Manahan sekaligus mengakhiri kecemasan besar yang sempat muncul usai kekalahan menyakitkan di Malang beberapa jam sebelumnya.
Di Stadion Kanjuruhan, PSM tampil jauh dari kata meyakinkan. Tim asuhan Bernardo Tavares sebenarnya datang dengan modal cukup positif setelah menang atas Bhayangkara Lampung FC pada laga sebelumnya. Kembalinya kapten tim, Yuran Fernandes, juga sempat diyakini akan membuat lini belakang lebih solid. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Arema FC tampil sangat agresif sejak menit awal lewat pergerakan Dalberto dan Gabriel Silva. Tekanan cepat dari Singo Edan membuat pertahanan PSM kesulitan keluar dari tekanan.
Petaka datang pada menit ke-10 ketika Yuran Fernandes melakukan pelanggaran terhadap Gabriel Silva di dalam kotak penalti. Wasit langsung menunjuk titik putih tanpa ragu. Dalberto sukses menjalankan tugasnya sebagai algojo dan membawa Arema unggul 1-0. Gol cepat itu mengubah arah pertandingan sepenuhnya. PSM sebenarnya sempat mencoba bangkit. Alex Tanque memperoleh peluang lewat tendangan jarak jauh pada menit ke-14, sementara Arfan juga memiliki kesempatan emas di menit ke-30. Namun, seluruh peluang tersebut gagal dikonversi menjadi gol.
Memasuki babak kedua, PSM mencoba tampil lebih menyerang. Namun, justru Arema kembali menghukum mereka lewat serangan cepat. Gabriel Silva mencetak gol kedua pada menit ke-53 setelah menusuk ke dalam kotak penalti dan melepaskan tembakan keras ke tiang dekat. Situasi semakin buruk ketika Joel Vinicius menambah gol ketiga pada menit ke-69 memanfaatkan kesalahan koordinasi lini belakang PSM. Kekalahan 0-3 itu membuat posisi PSM langsung terlihat sangat rawan di klasemen sementara, apalagi Persis Solo masih memiliki peluang matematis untuk mendekat.
Karena itulah, duel Persis kontra Persebaya mendadak berubah menjadi pertandingan yang sangat penting bagi publik Makassar. Sepanjang laga di Stadion Manahan, PSM praktis bergantung pada Persebaya Surabaya untuk menahan laju Persis Solo. Pertandingan berlangsung jauh lebih ketat dari perkiraan. Persis tampil disiplin karena sadar mereka membutuhkan kemenangan demi menjaga peluang bertahan. Di sisi lain, Persebaya juga kesulitan membongkar pertahanan tuan rumah meski menguasai beberapa fase permainan. Peluang demi peluang tercipta, tetapi tidak ada yang benar-benar mampu mengubah papan skor. Hingga peluit panjang berbunyi, skor 0-0 tetap bertahan. Dan tepat setelah hasil itu dipastikan, PSM Makassar resmi aman dari degradasi.
Situasi ini terasa ironis bagi Pasukan Ramang. Di satu sisi, mereka gagal memanfaatkan momentum untuk mengamankan keselamatan lewat usaha sendiri setelah dibantai Arema FC. Namun, di sisi lain, hasil pertandingan tim lain justru menjadi penyelamat di tengah musim yang penuh tekanan. Musim ini memang menjadi salah satu periode paling sulit bagi PSM Makassar sejak era Bernardo Tavares. Inkonsistensi menjadi masalah utama. Dalam beberapa pertandingan, mereka mampu tampil sangat solid dan disiplin, tetapi di laga lain pertahanan bisa runtuh dengan mudah. Lini depan juga sering kesulitan memaksimalkan dominasi penguasaan bola menjadi peluang berbahaya. Hal itu kembali terlihat saat menghadapi Arema FC. Meski mencatat penguasaan bola hingga 59 persen, PSM tetap gagal mencetak satu gol pun. Sebaliknya, Arema tampil jauh lebih efektif dan menghukum hampir setiap kesalahan kecil yang dilakukan lini belakang Pasukan Ramang.
Terlepas dari berbagai persoalan tersebut, hasil di Manahan memastikan satu target minimum berhasil dicapai: bertahan di Super League. Kini, dua laga tersisa lebih banyak menjadi kesempatan bagi Bernardo Tavares dan manajemen untuk mengevaluasi tim secara menyeluruh sebelum menatap musim berikutnya. Sebab, jika masalah inkonsistensi ini tidak segera diperbaiki, ancaman serupa bisa kembali muncul musim depan. Untuk saat ini, publik Makassar mungkin bisa bernapas sedikit lega. Alarm bahaya memang sempat berbunyi keras di Kanjuruhan, tetapi hasil imbang Persis Solo melawan Persebaya Surabaya akhirnya menjadi penyelamat yang memastikan PSM Makassar tetap berada di Super League.
Artikel Terkait
Barcelona Raup Rekor Pendapatan Tiket hingga Rp307 Miliar dari Laga El Clasico Lawan Real Madrid
PSM Makassar Aman dari Degradasi, Hasil Imbang Persis vs Persebaya Jadi Penyelamat di Tengah Krisis Permainan
Tijjani Reijnders Kenakan Jersey Retro Timnas 1991, Nostalgia ke Era Emas dan Jejak Ferril Hattu di Persebaya
Veda Ega Pratama Start Posisi Keenam di Moto3 Prancis, Tinggalkan Hakim Danish