Tijjani Reijnders Kenakan Jersey Retro Timnas 1991, Nostalgia ke Era Emas dan Jejak Ferril Hattu di Persebaya

- Sabtu, 09 Mei 2026 | 20:00 WIB
Tijjani Reijnders Kenakan Jersey Retro Timnas 1991, Nostalgia ke Era Emas dan Jejak Ferril Hattu di Persebaya

Sebuah video sederhana di kanal YouTube tiba-tiba memicu gelombang nostalgia panjang di jagat sepak bola Indonesia. Bukan karena aksi gol spektakuler atau kabar transfer pemain bintang, melainkan sebuah jersey lawas Tim Nasional Indonesia yang dikenakan gelandang anyar Manchester City, Tijjani Reijnders.

Dalam konten yang diunggah oleh kanal Away Days, Tijjani terlihat memilih beberapa kostum yang memiliki cerita penting dalam perjalanan hidup dan kariernya. Di antara tumpukan jersey klub-klub Eropa, perhatian publik Tanah Air langsung tertuju pada satu pilihan yang unik: jersey putih retro Timnas Indonesia edisi 1991. Bukan sekadar diperlihatkan ke kamera, pemain berdarah Indonesia itu bahkan tampak kagum dengan desainnya sebelum akhirnya mengenakannya di akhir video.

Momen itu sontak memicu reaksi luas di media sosial. Banyak penggemar sepak bola Indonesia merasa tersentuh melihat seorang pemain yang kini bersinar di level elite Eropa menunjukkan kedekatan emosional dengan identitas sepak bola nasional. Namun, euforia itu tidak berhenti di sana. Perbincangan kemudian berkembang lebih jauh, bahkan menyeret nama Persebaya Surabaya ke dalam pusaran nostalgia tersebut.

Penyebabnya terletak pada detail nomor punggung dan sejarah di balik jersey yang dikenakan Tijjani. Kostum putih itu merupakan seragam resmi Timnas Indonesia pada 1991, era ketika skuad Garuda sukses meraih medali emas SEA Games Manila dengan mengalahkan Thailand melalui drama adu penalti 4-3. Tim asuhan Anatoli Polosin saat itu dihuni oleh nama-nama besar yang kemudian menjadi legenda, seperti Widodo Cahyono Putro, Aji Santoso, Robby Darwis, Yusuf Ekodono, dan Ferril Raymond Hattu.

Benang merah nostalgia pun mulai tersambung. Jersey yang dipakai Tijjani ternyata bernomor punggung 16 nomor yang dahulu digunakan oleh Ferril Raymond Hattu saat membela Timnas. Bagi generasi sepak bola Indonesia era Galatama dan Perserikatan, nama Ferril Hattu bukanlah sosok sembarangan. Ia dikenal sebagai bek tangguh berdarah Maluku yang memiliki jejak kuat di Surabaya. Ferril merupakan pemain binaan HBS Surabaya sebelum bersinar bersama NIAC Mitra, kemudian memperkuat Persebaya Surabaya, dan menutup kariernya di Petrokimia.

Fakta inilah yang membuat nama Tijjani mulai “dihubungkan” dengan Persebaya oleh para suporter di media sosial. Tentu saja, hubungan ini lebih bernuansa emosional dan nostalgia ketimbang realistis secara sepak bola. Namun, di tengah kultur suporter Indonesia yang sangat kuat dengan sejarah dan identitas klub, detail seperti nomor punggung dan jejak pemain lama bisa menjadi simbol yang bermakna besar. Apalagi, Persebaya memiliki sejarah panjang dengan pemain-pemain berdarah Maluku dan identitas sepak bola yang kental dengan karakter lokal Surabaya.

Dalam konteks itu, momen Tijjani mengenakan jersey Ferril Hattu terasa seperti membuka kembali lembaran memori tentang generasi emas sepak bola Indonesia awal 1990-an. Lebih dari itu, kejadian ini juga memperlihatkan bahwa identitas Indonesia masih memiliki tempat tersendiri bagi Tijjani, meski kini ia berada di level tertinggi sepak bola Eropa bersama Manchester City. Di tengah banyak pemain modern yang tampil sangat korporat dan jauh dari akar budaya, tindakan sederhana seperti memilih jersey retro Timnas Indonesia justru terasa sangat personal. Terlebih, jersey tersebut bukanlah desain modern yang viral di media sosial, melainkan kostum klasik yang sarat nilai sejarah.

Tahun 1991 memang menjadi salah satu periode paling berkesan bagi Timnas Indonesia. Generasi saat itu berhasil membawa pulang emas SEA Games setelah penantian panjang, dengan kombinasi pemain bertalenta dan karakter kuat di lapangan. Nama-nama seperti Widodo C Putro, Hanafing, Peri Sandria, Rochy Putiray, hingga Ferril Hattu menjadi bagian penting dari generasi yang masih dikenang hingga kini. Karena itu, ketika Tijjani mengenakan jersey tersebut, banyak publik merasa bahwa ia bukan sekadar memakai pakaian sepak bola lama, melainkan sedang mengenakan simbol sejarah. Secara tidak langsung, ia ikut membawa kembali ingatan tentang era ketika Timnas Indonesia pernah berdiri di puncak Asia Tenggara.

Bagi Persebaya Surabaya sendiri, munculnya nama Ferril Hattu dalam perbincangan ini juga menjadi pengingat akan akar sejarah klub yang begitu kuat dalam perjalanan sepak bola nasional. Ferril bukan hanya mantan pemain Timnas, tetapi juga bagian dari generasi sepak bola Surabaya yang membentuk identitas Persebaya di era awal profesionalisme. Tidak heran jika media sosial dipenuhi komentar bercanda dari suporter Persebaya yang menyebut Tijjani “sudah cocok jadi Bonek” hanya karena mengenakan jersey bernomor 16 milik Ferril Hattu.

Memang tidak ada hubungan langsung antara Tijjani dan Persebaya secara profesional. Namun, sepak bola sering kali hidup dari simbol, nostalgia, dan emosi kecil yang sulit dijelaskan dengan logika biasa. Dan kali ini, semuanya bermula dari satu jersey putih lawas Timnas Indonesia.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar