PSM Makassar Aman dari Degradasi, Hasil Imbang Persis vs Persebaya Jadi Penyelamat di Tengah Krisis Permainan

- Sabtu, 09 Mei 2026 | 22:00 WIB
PSM Makassar Aman dari Degradasi, Hasil Imbang Persis vs Persebaya Jadi Penyelamat di Tengah Krisis Permainan

Peran Bernardo Tavares dalam menyelamatkan PSM Makassar dari jerat degradasi musim ini menyimpan paradoks yang menarik untuk dicermati. Di satu sisi, Pasukan Ramang menjalani salah satu musim terberat sejak era pelatih asal Portugal itu dimulai. Namun di sisi lain, justru fondasi mental dan karakter bertahan yang ia bangun dalam beberapa musim terakhir menjadi faktor kunci yang membuat tim tetap bertahan di tengah tekanan besar Super League 2025/2026.

Kepastian bertahannya PSM akhirnya datang bukan dari kemenangan mereka sendiri, melainkan dari hasil imbang 0-0 antara Persis Solo dan Persebaya Surabaya di Stadion Manahan. Hasil tersebut membuat Persis hanya mengoleksi 28 poin dengan dua laga tersisa. Secara matematis, mereka memang masih bisa menyamai 34 poin milik PSM, tetapi Pasukan Ramang unggul dalam head to head sehingga dipastikan aman dari zona degradasi.

Ironisnya, beberapa jam sebelumnya situasi PSM sebenarnya sedang sangat genting. Mereka baru saja dihajar Arema FC dengan skor telak 0-3 di Stadion Kanjuruhan. Kekalahan itu membuat alarm bahaya benar-benar menyala di kubu Makassar. Kembalinya Yuran Fernandes yang sempat diharapkan memperkuat lini belakang justru berubah menjadi awal petaka. Bek sekaligus kapten PSM itu melakukan pelanggaran terhadap Gabriel Silva di kotak penalti pada menit ke-10. Dalberto sukses mengeksekusi penalti dan membawa Arema unggul cepat.

Setelah itu, pertahanan PSM runtuh perlahan. Gabriel Silva menambah gol kedua sebelum Joel Vinicius menutup kemenangan Arema lewat gol ketiga yang memperlihatkan buruknya koordinasi lini belakang Pasukan Ramang. Padahal secara statistik, PSM sebenarnya mendominasi penguasaan bola hingga 59 persen. Namun seperti yang berulang kali terjadi musim ini, dominasi tersebut tidak diikuti efektivitas di depan gawang.

Di titik inilah tekanan terhadap Bernardo Tavares mulai terasa sangat besar. Musim ini, PSM berkali-kali terlihat kehilangan identitas permainan yang dulu membuat mereka tampil disiplin dan sulit dikalahkan. Inkonsistensi menjadi masalah terbesar. Kadang mereka mampu tampil sangat solid saat menghadapi tim besar, tetapi di pertandingan lain bisa kehilangan konsentrasi dan runtuh hanya dalam beberapa menit.

Meski begitu, ada satu faktor penting yang membuat PSM akhirnya tetap selamat: pengalaman menghadapi tekanan. Dan itu merupakan warisan langsung dari era Bernardo Tavares. Sejak membawa PSM menjadi salah satu tim paling kompetitif di Indonesia beberapa musim lalu, Tavares membentuk karakter tim yang kuat secara mental. Bahkan ketika performa tidak stabil, PSM tetap memiliki kemampuan bertahan dalam situasi sulit.

Hal itu terlihat jelas dalam persaingan papan bawah musim ini. Saat tim-tim lain mulai panik, PSM masih mampu mengumpulkan poin-poin penting yang akhirnya menjadi pembeda di akhir musim. Kini tekanan justru beralih ke klub-klub lain di zona bawah. Persis Solo berada dalam posisi paling sulit karena peluang bertahan mereka makin tipis setelah gagal menang atas Persebaya. Selain Persis, tekanan besar juga mulai menghantui Persijap Jepara dan Madura United yang masih harus berjibaku menghindari jurang degradasi di dua pekan terakhir.

Setiap poin kini menjadi sangat menentukan. Dalam situasi seperti itu, hasil imbang tanpa gol di Manahan terasa jauh lebih besar daripada sekadar satu poin biasa. Bagi Persebaya, hasil tersebut mungkin terasa mengecewakan karena gagal meraih kemenangan. Tetapi tanpa disadari, mereka justru menjadi “penyelamat” PSM Makassar. Dan secara tidak langsung, Bernardo Tavares ikut terselamatkan dari tekanan yang bisa menjadi jauh lebih besar apabila PSM benar-benar masuk ke pekan-pekan terakhir dalam ancaman degradasi.

Kini, dua laga tersisa berubah menjadi kesempatan evaluasi besar bagi PSM. Musim ini memperlihatkan bahwa fondasi mental yang dibangun Tavares memang masih kuat, tetapi kualitas permainan PSM membutuhkan banyak pembenahan. Sebab jika inkonsistensi, rapuhnya pertahanan, dan tumpulnya penyelesaian akhir terus berulang, maka alarm bahaya yang sempat berbunyi musim ini bisa kembali datang pada musim berikutnya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar