Veda Ega Pratama Bangkit dari P17 ke P6 di Moto3 Spanyol

- Minggu, 26 April 2026 | 18:00 WIB
Veda Ega Pratama Bangkit dari P17 ke P6 di Moto3 Spanyol

JEREZ Kadang, satu balapan bisa bicara lebih dari sekadar angka. Itulah yang terjadi pada Veda Ega Pratama di seri Moto3 Spanyol 2026. Start dari posisi ke-17? Jauh dari kata ideal. Tapi lihatlah bagaimana ia membalikkan keadaan, finis di urutan keenam. Bukan cuma soal hasil, ini soal bagaimana seorang rookie bertahan, belajar, dan membuktikan karakter di lintasan paling menuntut.

Semuanya berawal dari kualifikasi yang penuh pasang surut. Di Q1, Veda tampil meyakinkan. Ia bahkan berhasil menembus Q2, dan rasa percaya dirinya sedang tinggi-tingginya. Tapi nahas, satu kesalahan kecil di momen genting membuatnya harus puas start dari barisan belakang. Di kelas Moto3 yang super ketat, start dari P17 jelas bukan skenario yang diinginkan siapa pun.

Namun begitu, Veda tidak larut dalam kekecewaan. Alih-alih mengeluh, ia memilih melihat situasi ini sebagai tantangan. Sikapnya mencerminkan kedewasaan yang jarang terlihat dari pembalap semusim dirinya.

“Saya merasa nyaman dengan motor, baik dalam kondisi basah maupun kering. Itu hal positif,” ujarnya.

“Di Q1 semuanya berjalan lancar, saya bisa maju ke Q2. Jadi saya merasa siap untuk meraih posisi bagus.”

Ia juga tak menutupi kesalahannya sendiri.

“Di Q2, saya melakukan kesalahan di lap terakhir dan jatuh saat mencoba memacu motor. Itu bagian dari proses, sesuatu yang bisa dipelajari. Start dari P17 memang kurang ideal, tapi saya siap bersaing. Tujuan saya tetap fokus, berusaha memberikan yang terbaik, dan mencoba meraih poin.”

Kalimat-kalimat itu bukan basa-basi. Terbukti di lintasan, ia benar-benar mewujudkannya.

Saat lampu start padam, refleks Veda luar biasa. Dalam beberapa tikungan pertama, ia sudah melesat dari P17 ke P14. Start bersih itu jadi fondasi kebangkitannya. Di tengah kekacauan yang melibatkan beberapa pembalap lain termasuk Matteo Bertelle Veda tetap tenang, menjaga ritme, tidak ikut panik.

Memasuki lap-lap awal, progresnya konsisten. Ia mulai merangsek ke posisi 10 besar, bahkan sempat terlibat duel sengit dengan Hakim Danish dan Joel Esteban. Keberanian menyalip jadi salah satu senjatanya. Tapi yang lebih penting, ia mampu menjaga stabilitas di bawah tekanan.

Di sinilah perbedaannya terlihat dibanding seri sebelumnya, terutama setelah insiden crash di Amerika Serikat. Di Jerez, Veda tampil lebih sabar. Lebih terukur. Tidak terburu-buru mengambil risiko yang tidak perlu.

Memasuki pertengahan balapan, performanya semakin solid. Ia menembus posisi kedelapan, lalu naik ke posisi keenam pada lap ke-11. Bahkan di lap ke-14, Veda sempat mencicipi posisi kelima setelah menyalip Alvaro Carpe. Momen itu menunjukkan ia bukan sekadar “bertahan”, melainkan benar-benar bersaing di barisan depan.

Tapi Moto3 selalu menyisakan drama hingga detik terakhir. Di lap-lap akhir, intensitas meningkat drastis. Kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal. Veda yang sudah tampil maksimal akhirnya harus kembali disalip Carpe menjelang garis finis. Ia pun mengakhiri balapan di posisi keenam.

Meski gagal mempertahankan posisi lima besar, hasil ini tetap sangat signifikan. Dari P17 ke P6? Itu bukan pekerjaan mudah, apalagi di sirkuit seperti Jerez yang menuntut presisi tinggi di setiap tikungan.

Di depan, Maximo Quiles kembali menunjukkan dominasinya dengan finis pertama, diikuti Adrian Fernandez dan David Munoz. Tapi sorotan tidak hanya tertuju pada podium. Banyak mata juga tertuju pada kebangkitan Veda dari barisan belakang.

Hasil ini langsung berdampak pada klasemen sementara. Veda kini mengoleksi 37 poin dan naik ke posisi keenam, berada di bawah nama-nama seperti Quiles, Carpe, dan Fernandez. Ini menunjukkan konsistensi mulai terbentuk di musim perdananya.

Kalau ditarik lebih dalam, balapan di Jerez bukan sekadar soal hasil akhir. Ini cerita tentang bagaimana seorang pembalap muda belajar dari kesalahan, mengelola tekanan, dan mengeksekusi strategi dengan disiplin tinggi. Veda tidak hanya cepat, ia juga mulai matang dalam membaca situasi balapan.

Momentum ini jadi penting banget, karena seri berikutnya akan berlangsung di Le Mans lintasan dengan karakter berbeda yang kembali menuntut adaptasi cepat. Tapi dengan bekal performa di Jerez, ada alasan kuat untuk percaya bahwa Veda bisa menjaga tren positif.

Pada akhirnya, Moto3 Spanyol 2026 menjadi titik refleksi sekaligus pembuktian. Dari posisi yang tidak ideal, Veda Ega Pratama berhasil menunjukkan bahwa dalam balap, segalanya mungkin terjadi selama ada fokus, keberanian, dan kemauan untuk terus belajar.

Dan seperti yang ia katakan sendiri, kuncinya sederhana tapi krusial: tetap fokus, memberikan yang terbaik, dan terus berjuang meraih poin. Di Jerez, semua itu bukan cuma diucapkan. Semua itu benar-benar diwujudkan di lintasan.

Maximo Quiles (90)
Alvaro Carpe (53)
Adrian Fernandez (49)
Valentine Perrone (47)
Marco Morelli (45)
Veda Ega Pratama (37)
Guido Pini (36)
David Almansa (33)
Brian Uriarte (28)
David Munoz (22)
Rico Salmela (21)
Casey O’Gorman (16)
Adrian Cruces (14)
Joel Esteban (13)
Hakim Danish (12)
Scott Ogden (10)
Jesus Rios (8)
Joel Kelso (8)
Matteo Bertelle (7)
Eddie O’Shea (7)
Ryusei Yamanaka (2)
Marcos Uriarte (2)
Leo Rammerstorfer (0)
Ruche Moodley (0)
Zoe Mitani (0)
Nicola Carraro (0)
Cormac Buchanan (0)

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar