BARCELONA Akhirnya, Xavi Hernandez buka suara. Mantan pelatih Barcelona itu membeberkan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Raphinha. Selama ini, publik hanya mendengar satu sisi cerita bahwa hubungan mereka tegang, dingin, bahkan mungkin retak. Tapi menurut Xavi? Tidak sesederhana itu.
Dalam sebuah wawancara di kanal YouTube Romario, Xavi mengupas banyak hal soal masa kepelatihannya. Tapi yang paling menarik perhatian ya soal Raphinha ini. Maklum, sudah lama beredar kabar kalau keduanya nggak akur.
Sebelum kita masuk ke pernyataan Xavi, mari kita flashback sebentar.
Raphinha sendiri sebelumnya pernah bilang hubungan mereka itu profesional saja. Kaku. Ia juga sempat menyiratkan rasa frustrasi, terutama karena sering ditarik keluar di menit-menit awal babak kedua. Pergantian pemain yang terlalu cepat, katanya. Wajar kalau banyak yang kemudian menduga ada jarak di antara mereka.
Tapi versi Xavi? Jauh lebih rumit dari itu. Dan menurut saya, lebih manusiawi.
Xavi memulai dengan menegaskan satu hal: ia sudah lama mengagumi pemain Brasil ini. Jauh sebelum Raphinha menginjakkan kaki di Camp Nou. Bahkan, sejak Xavi masih menangani Al Sadd di Qatar.
“Saya yang merekrut Raphinha. Saya yang bilang ke klub: rekrut dia,” ujarnya, seperti dikutip dari Barca Blaugranes. Nada bicaranya tegas, seperti ingin meluruskan semua anggapan miring.
“Saya sudah ingin merekrutnya sejak masih di Al Sadd. Waktu itu dia di Portugal. Tapi akhirnya dia memilih bertahan di Eropa,” tambah Xavi.
Begitu tiba di Barcelona, Xavi langsung bergerak. Ia menemui Jordi Cruyff dan Mateu Alemany. “Saya bilang, kita harus rekrut pemain ini. Dia pemenang. Dia bisa menyerang dari belakang, kuat dalam duel satu lawan satu, dan dia cetak gol.”
Nah, soal ketegangan yang selama ini dibicarakan orang, Xavi punya pandangan lain. Ia mengaku hubungannya dengan Raphinha tetap baik. “Saya selalu percaya sama Rafa. Hubungan kami sangat bagus,” katanya.
Tapi ya, sebagai pelatih, kadang keputusan di lapangan nggak selalu enak diterima pemain. Xavi paham itu. Ia juga tahu pergantian pemain jadi sumber frustrasi utama Raphinha. Tapi dari kacamata manajer, itu adalah konsekuensi logis.
“Seorang pelatih harus paham bahwa pertandingan tergantung performa. Kalau kamu main jelek, saya harus masukkan pemain lain. Kami punya pemain yang bisa mengubah jalannya pertandingan,” jelas Xavi.
Lalu, Xavi cerita soal satu momen yang cukup personal. Suatu hari, di sesi latihan, Raphinha kelihatan frustrasi. Xavi mendekatinya. Bukan untuk marah, tapi justru menenangkan.
“Saya ingat percakapan yang sangat baik dengan Raphinha waktu latihan. Dia frustrasi. Saya bilang: ‘Rafa, kamu tanda tangan kontrak di sini lima tahun. Tenang. Kami percaya sama kamu. Santai aja, jadi dirimu sendiri’.”
Xavi melanjutkan, “Saya tahu pergantian pemain itu nggak membantu mentalnya. Tapi sekarang? Dia benar-benar sudah menemukan jati dirinya.”
Di akhir perbincangan, Xavi menyampaikan rasa puasnya. Bukan sebagai mantan pelatih yang ingin membela diri, tapi seperti seseorang yang bangga melihat anak didiknya berkembang.
“Saya senang Raphinha berkembang pesat di Barcelona. Kami kasih dia banyak dukungan. Dia orang baik, pemenang, bertanggung jawab. Dan dia pemimpin,” tutup Xavi. (amr)
Artikel Terkait
Indonesia Tertinggal 1-2 dari Thailand Usai Alwi Farhan Tumbang di Piala Thomas 2026
Veda Ega Pratama Bangkit dari P17 ke P6 di Moto3 Spanyol
John Herdman Panggil Thom Haye hingga Saddil Ramdani di TC Perdana Timnas, Target Juara Piala AFF 2026 Mulai Digarap
Real Madrid Siap Sambut Endrick, Arsenal Mulai Pantau Striker Muda Brasil