Krisis Chelsea Makin Dalam, Lima Kalah Beruntun Usai Dibantai Brighton

- Rabu, 22 April 2026 | 22:00 WIB
Krisis Chelsea Makin Dalam, Lima Kalah Beruntun Usai Dibantai Brighton
Krisis di Stamford Bridge

LONDON Krisis di Chelsea semakin dalam. Kali ini, The Blues dihajar Brighton dengan skor telak 3-0 di kandang sendiri. Sungguh pukulan yang memalukan.

Ini sudah jadi kekalahan kelima beruntun di Liga Premier. Lebih parah lagi, dalam delapan laga terakhir di semua ajang, mereka cuma menang sekali. Tujuh kali kalah.

Yang bikin geleng-geleng, mereka seperti kehilangan cara mencetak gol. Tujuh kekalahan itu berakhir dengan gawang kosong. Satu-satunya gol sejak pertengahan Maret? Cuma saat menang tipis 1-0 lawan Port Vale, tim kasta ketiga Inggris. Miris.

Memang, kalah dari PSG, Manchester City, atau United masih bisa dicari pembenaran: "tampil bagus, cuma kurang beruntung". Tapi penampilan melawan Brighton sama sekali tidak punya alasan. Nol.

Sepanjang babak pertama, cuma satu tembakan yang dilepaskan. Sepanjang pertandingan, tidak satu pun tembakan tepat sasaran. Yang tampak cuma kekacauan, tim yang tidak kompak, dan kepercayaan diri yang hilang sama sekali.

Tekanan pada Liam Rosenior kini sudah memuncak. Usai laga, sang manajer terlihat hancur.

"Saya mati rasa," ujarnya. Ia menyebut penampilan timnya "tidak dapat dibenarkan".

Kata yang sama mungkin mulai tepat untuk menggambarkan posisinya sendiri di klub.

Di sisi lain, Trevoh Chalobah berusaha membela rekan-rekannya setelah kemarahan Rosenior meledak. Tapi kata-kata saja tampaknya sudah tidak cukup.

Dengan situasi seperti ini, wacana pergantian pelatih tak terhindarkan. Siapa penggantinya jika Rosenior benar-benar dipecat? Beberapa nama sudah beredar.

Filipe Luis

Nama mantan bek kiri Chelsea ini sempat mengemuka kuat ketika Enzo Maresca dipecat Januari lalu. Pemilik klub bahkan dikabarkan sudah melakukan uji tuntas mendalam terhadapnya. Jadi, transisinya bisa berjalan cepat.

Statusnya sekarang bebas transfer setelah hengkang dari Flamengo Maret lalu. Chelsea tak perlu bayar kompensasi. Plus, ia punya ikatan emosional dengan fans yang bisa jadi modal awal.

Tapi ya itu, pengalamannya melatih cuma sebatas di Brasil. Lompatan ke Liga Premier itu besar. Ada keraguan serius: bisakah ia mengendalikan ruang ganti yang penuh bintang mahal tapi bermental rapuh? Jangan-jangan ia cuma pengganti sementara yang nasibnya tak akan jauh beda.

Oliver Glasner

Pelatih Crystal Palace ini sudah pasti pergi akhir musim. Mungkin ia bisa dibujuk datang lebih awal. Prestasinya di Selhurst Park cukup mentereng, apalagi dengan gelar Piala FA musim lalu.

Manchester United sempat dikaitkan dengannya, tapi minat itu mungkin meredup melihat kinerja apik Michael Carrick sebagai pelatih sementara. Ini peluang buat Chelsea.

Glasner menawarkan sesuatu yang sangat dibutuhkan The Blues sekarang: disiplin taktis dan struktur tim yang solid. Ia pelatih yang sudah terbukti bisa membuat tim tampil melebihi ekspektasi.

Andoni Iraola

Nasibnya mirip Glasner. Bos Bournemouth ini juga akan hengkang, dan klub sudah menyiapkan Marco Rose sebagai pengganti. Bisa saja ia dilepas lebih cepat.

Tapi untuk membawanya ke Stamford Bridge sekarang, Chelsea harus merogoh kocek dalam-dalam. Tawarkan gaji besar dan kontrak jangka panjang yang menggiurkan. Gaya permainan intensifnya mungkin jadi terapi kejut yang pas untuk membangunkan skuad yang lesu ini.

Lucunya, jika ia berhasil membawa Chelsea finis di atas Bournemouth, itu akan jadi ironi yang cukup getir.

Cesc Fabregas

Mantan gelandang Chelsea ini sedang membuat keajaiban di Italia. Timnya, Como, berjuang keras untuk finis di empat besar Serie A. Loyalitasnya pada proyek di Italia kuat, tapi ikatan hatinya dengan Chelsea juga dalam.

Sebagai murid aliran Pep Guardiola, kecerdasan taktis Fabregas dipuji banyak kalangan. Namanya masih sering dinyanyikan fans di Stamford Bridge. Kehadirannya pasti langsung menyuntik semangat.

Masalahnya, bisakah ia diyakinkan meninggalkan peluang main Liga Champions, untuk terjun ke kekacauan di klub yang sedang terpuruk? Butuh bujukan tingkat tinggi dari petinggi klub.

John Terry

Kalau yang dicari adalah pengobar semangat dan pemulihan moral untuk sisa musim, siapa yang lebih cocok dari legenda klub sendiri? John Terry saat ini sudah bekerja di akademi Chelsea, jadi para pemilik kenal betul karakternya.

Ia tak pernah menyembunyikan mimpi untuk melatih tim utama. Sangat mungkin ia langsung menerima tawaran jadi pelatih sementara, sekadar untuk membuktikan diri.

Pengalaman taktisnya memang terbatas. Tapi gelar "Kapten, Pemimpin, Legenda" yang melekat padanya punya bobot luar biasa di dalam klub. Karisma dan jiwa kepemimpinannya mungkin jadi obat yang dibutuhkan untuk skuad yang kehilangan kebanggaan.

Tapi hati-hati. Eksperimen serupa pernah gagal. Ketika Graham Potter dipecat tahun 2023, Frank Lampard dipanggil kembali. Hasilnya? Bisa dibilang tidak sesuai harapan.

Jadi, pilihannya tidak mudah. Di tengah kekacauan ini, satu hal yang pasti: Chelsea butuh perubahan, dan cepat. Kalau tidak, musim yang sudah suram ini bisa berakhir lebih buruk lagi.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar