Suasana di Stadion Citarum, Semarang, Minggu lalu, benar-benar memanas. Bukan cuma karena pertandingan Elite Pro Academy yang sengit, tapi lebih karena sebuah insiden yang jauh dari nilai sportivitas: seorang pemain Bhayangkara FC U-20, Fadly Alberto Hengga, melepaskan tendangan kungfu ke arah lawan. Aksi itu langsung viral dan memantik reaksi keras.
Tak butuh waktu lama, manajemen Dewa United merespon. Mereka geram dan sudah menyiapkan langkah hukum. Presiden klub, Ardian Satya Negara, tak menyembunyikan kekecewaannya.
"Jujur saya sangat kecewa," ujarnya tegas.
Baginya, kompetisi untuk pemain muda semestinya jadi ajang pembelajaran, bukan malah diwarnai kekerasan. Ardian menegaskan, pihaknya tak akan diam saja. Proses hukum akan dijalani, tak cuma untuk pemain, tapi juga pelatih yang diduga terlibat dalam pemukulan. "Biar menjadi pembelajaran untuk semua," katanya.
Di sisi lain, Bhayangkara FC juga tak tinggal diam. Melalui Chief Operating Officer-nya, Sumardji, mereka membuka suara dan mengaku turut kecewa dengan kejadian memalukan itu.
"Saya sebenarnya sangat kecewa dengan adanya kejadian itu. Kejadian itu diawali dari sesuatu yang semestinya tidak boleh terjadi," jelas Sumardji kepada media, Senin (20/4).
Menurut penuturannya, akar masalahnya berawal dari kinerja wasit yang dianggap tidak profesional. Keputusan-keputusan yang kontroversial itu yang kemudian memicu emosi di lapangan. Namun, ada satu hal yang lebih menyulut: dugaan rasisme.
Sumardji mengungkap, berdasarkan penjelasan langsung dari sang pemain, ada teriakan rasis yang dilontarkan dari bangku cadangan lawan. "Ada teriakan dari bench, 'Berto hitam, Berto monyet'. Dari situ dia naik emosi dan melakukan tendangan itu," paparnya.
Meski begitu, dia dengan jelas menolak membenarkan tindakan Fadly. Kekerasan, bagaimanapun alasannya, tetap salah. "Itu tidak dibenarkan dan tidak boleh dilakukan. Dia harus evaluasi diri dan menerima keputusan Komdis," tegas Sumardji.
Kini, kasus ini seperti bola salju yang kian menggelinding. Di satu sisi, Komdis PSSI pasti akan memberi sanksi sportif. Namun di sisi lain, ancaman jalur hukum dari Dewa United membuka kemungkinan persoalan ini merambah ke ranah yang lebih serius dan berlarut-larut. Insiden satu tendangan ini telah membuka kotak pandora di sepak bola usia muda.
Artikel Terkait
Persebaya di Bawah Tekanan, Nasib Bernardo Tavares Dipertaruhkan
Veda Ega Pratama Siap Bangkit di Seri Spanyol Moto3 Usai Persiapan Intensif
Gubernur Kalimantan Utara Serahkan Dana Abadi Rp150 Juta untuk Beasiswa Mahasiswa Unhas
Nasib PSM Makassar Bergantung pada Hasil Laga Semen Padang vs Persijap