Memang ada peluang yang bikin deg-degan. Tendangan Ole Romeny, misalnya, masih membentur mistar. Belum lagi sundulan Rizky Ridho di menit-menit akhir yang cuma mengenai tiang. Sedikit saja nasib berpihak, hasilnya bisa berbeda.
Angka-Angka yang Menipu
Statistik pertandingan malah bikin geleng-geleng. Indonesia menguasai bola hingga 71 persen, sementara Bulgaria cuma 29 persen. Operan yang dilakukan skuad Garuda juga jauh lebih banyak: 569, dengan 489 di antaranya akurat. Jelas dominasi yang tak terbantahkan.
Tapi sepakbola memang bukan cuma soal penguasaan bola. Bulgaria bermain efisien sekali. Dari sembilan percobaan, empat mengarah tepat ke gawang. Bandingkan dengan Indonesia yang cuma menghasilkan enam tembakan, dan cuma satu yang on target. Itu yang bikin beda.
Bagi Luciano, skor 0-1 ini sungguh menyesatkan. Ia bersikeras bahwa Indonesia tampil sejajar, bahkan mampu memberi perlawanan sengit pada tim Eropa yang ranking FIFA-nya lebih tinggi.
“Skor ini tidak menggambarkan kualitas sebenarnya. Indonesia bermain setara melawan tim Eropa,” tegasnya.
Jadi, meski trofi tak berhasil dibawa pulang, ada sesuatu yang lebih berharga dari malam itu: keyakinan. Penampilan Timnas Indonesia menunjukkan progres yang nyata. Mereka semakin kompetitif, dan itu sinyal positif untuk masa depan. (")
Artikel Terkait
Jay Idzes Soroti Energi dan Taktik Baru John Herdman di Debutnya dengan Timnas Indonesia
Pelatih Bulgaria Buka Peluang Kembali Berkarier di Indonesia
AS Roma Minat Rekrut Mohamed Salah, Syaratnya Potong Gaji Drastis
Herdman Soroti Tiga Pemain Kunci untuk Persiapan Timnas Indonesia Menuju Piala Dunia 2030