“Kritik berlebihan di media sosial tidak pantas. Kita harus lebih baik sebagai bangsa,” tambah Herdman. “Perannya sangat penting, dia membuka ruang, menjadi lini pertama dalam pressing.”
Sebagai perbandingan, Herdman menyebut nama Olivier Giroud. Striker top Prancis itu pernah melalui momen serupa tidak mencetak gol di Piala Dunia, namun kontribusinya untuk permainan tim tetap dihargai tinggi. Prinsip yang sama, menurutnya, harusnya berlaku untuk Sananta.
“Sananta juga seperti itu, bermain untuk tim,” katanya.
Di sisi lain, Herdman memahami ekspektasi publik yang tinggi. Namun, dia berharap ada perspektif yang lebih luas dari para suporter. Dukungan, bukan cercaan, yang akan membantu pemain muda seperti Sananta berkembang.
“Saya harap suporter bisa lebih menghargai kerja kerasnya,” harap Herdman.
Pembelaannya ini bukan sekadar membela anak asuh. Lebih dari itu, ini adalah pernyataan tentang budaya mendukung pemain. Dalam proses membangun tim nasional yang solid, kritik yang membangun tentu diperlukan. Tapi serangan yang menjatuhkan? Itu hanya akan menghambat progres. Herdman tampaknya ingin mengingatkan semua pihak tentang hal itu.
Artikel Terkait
Liverpool Incar Maxence Lacroix, Bek Tercepat Premier League
Veda Ega Pratama Gagal Finis di COTA, Tapi Tunjukkan Mental Juara
Final FIFA Series 2026: Duel Gaya Italia dan Ajang Pembuktian Jay Idzes
Veda Ega Pratama Alami Kecelakaan di Moto3 AS, Kondisi Dinyatakan Baik-baik Saja