IHSG Ditutup Turun Tipis 0,08% di Tengah Ketidakpastian Global

- Senin, 30 Maret 2026 | 17:15 WIB
IHSG Ditutup Turun Tipis 0,08% di Tengah Ketidakpastian Global

Zona merah masih menyelimuti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di penutupan perdagangan sore ini. Meski begitu, pelemahannya tak terlalu dalam dibandingkan gerakannya di sesi pagi.

Data RTI per Senin, 30 Maret 2026, mencatat IHSG turun 5,386 poin atau cuma 0,08 persen ke level 7.091. Pergerakannya hari ini cukup berliku. Indeks sempat dibuka di 7.020, lalu terjun ke titik terendah 6.945, sebelum akhirnya merangkak naik dan sempat menyentuh level tertinggi 7.104.

Volume perdagangan terlihat cukup aktif. Totalnya mencapai 25,124 miliar saham dengan nilai transaksi Rp14,941 triliun. Kapitalisasi pasarnya tercatat Rp12,536 triliun setelah frekuensi perdagangan berjalan 1.669.544 kali.

Dari papan pencatatan, saham-saham yang menguat jumlahnya kalah banyak. Hanya 272 saham yang catat kenaikan, sementara 403 lainnya terperosok. Sebanyak 149 saham lagi stagnan, tak bergerak berarti.

Ilustrasi. Foto: dok MI/Susanto.

Sempat Ikuti Jejak Bursa Asia

Sebelumnya, IHSG sempat mencoba mengikuti kenaikan sebagian bursa Asia. Tapi rupanya, sentimen dari luar negeri masih terlalu berat. Kiwoom Research mengingatkan investor untuk lebih banyak menahan diri, bersikap wait and see. Mereka menunggu perkembangan perang AS-Iran, plus data payroll AS dan inflasi Indonesia. Belum lagi keputusan pemerintah soal mitigasi risiko krisis BBM yang katanya bakal dirilis pekan ini.

Menurut Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, sentimen global masih didominasi ketidakpastian yang tinggi. Pergerakan pasar sangat bergantung pada berita-berita utama. Penundaan serangan yang diumumkan Presiden AS Donald Trump gagal memberi kelegaan karena risiko eskalasi masih menganga termasuk potensi penambahan 10 ribu pasukan AS.

Pakistan muncul sebagai mediator dengan proposal perdamaian 15 poin. Sementara itu, Iran memberi sinyal terbatas, seperti mengizinkan 20 kapal melintasi Hormuz, tapi tetap menolak proposal dari AS.

Konflik ini sudah masuk pekan kelima. Selat Hormuz masih tertutup untuk sebagian besar tanker, dan serangan terhadap infrastruktur energi terus berlanjut. Uni Emirat Arab (UEA) mendorong pembentukan Pasukan Keamanan Hormuz, tapi dapat resistensi dari sekutu AS sendiri. Gagasan itu juga berpotensi diveto Rusia dan China. Di sisi lain, Arab Saudi coba alihkan ekspor via Laut Merah, meski belum bisa menggantikan gangguan pasokan global yang terjadi.

Dari dalam negeri AS sendiri, tekanan politik makin menjadi. Lebih dari 3.000 titik demonstrasi “No Kings” melibatkan sembilan juta orang. Mereka menentang kebijakan Trump, termasuk perang Iran dan deportasi massal. Ini jadi lapisan risiko tambahan untuk stabilitas kebijakan ke depan.

“Dalam kondisi seperti ini, pasar menghadapi kenyataan pahit: hampir tidak ada kelas aset yang benar-benar aman. Aset safe haven seperti US Treasury, Yen Jepang, dan emas pun gagal memberikan perlindungan. Alhasil, investor terdorong untuk mengurangi eksposur risiko secara agresif,”

ujar Liza.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar