AUSTIN Harapan pupus sudah untuk Veda Ega Pratama di Circuit of the Americas. Usai meraih podium manis di Brasil, balapan seri Amerika Serikat justru berakhir pahit bagi pembalap muda asal Indonesia itu. Ia gagal finis. Penyebabnya? Kecelakaan high side yang brutal di tikungan cepat.
Tapi tunggu dulu. Di balik debu dan serpihan motor yang berantakan, ada sesuatu yang menarik perhatian. Bukan soal hasil, melainkan responsnya. Ada mentalitas di sana jenis mentalitas yang langka untuk anak 17 tahun dan mengingatkan kita pada masa-masa awal seorang Valentino Rossi.
Sebelum insiden, sebenarnya Veda tampil menggila. Start dari grid keempat, ia langsung nyemplung ke dalam kerumunan pembalap terdepan. Sempat terlempar ke posisi delapan, ia tak tinggal diam. Pembalap itu seperti punya nyali ekstra, berhasil menekan dan merebut kembali posisinya.
Puncaknya di lap ketiga: catatan waktu tercepat. Itu bukan cuma angka di papan waktu. Itu pernyataan. Bukti bahwa kecepatan mentahnya sudah berada di level yang tepat untuk bersaing.
Nah, momen-momen seperti inilah yang sering jadi penanda. Rossi dulu juga begitu: agresif, berani ambil risiko, dan tak jarang jatuh. Tapi justru dari situlah karakter juara ditempa.
Sayangnya, risiko kadang berbalik menghantam. Di lap kelima, usai memacu motornya, Veda mengalami high side. Joel Esteban di belakangnya ikut terseret dalam insiden itu. Tak ada yang bisa dilakukan.
Motor rusak parah. Balapan selesai. Poin nihil.
Tapi di sinilah pembedanya. Alih-alih menyalahkan kondisi trek atau mencari kambing hitam, Veda justru menunjukkan kedewasaan yang jarang.
Artikel Terkait
Yuta Watanabe Resmi Gelar Resepsi Pernikahan, Privasi Istri Tetap Terjaga
Liverpool Incar Maxence Lacroix, Bek Tercepat Premier League
Final FIFA Series 2026: Duel Gaya Italia dan Ajang Pembuktian Jay Idzes
Veda Ega Pratama Alami Kecelakaan di Moto3 AS, Kondisi Dinyatakan Baik-baik Saja