JAKARTA – Sorotan tajam mengarah ke Ramadhan Sananta usai Timnas Indonesia menang telak 4-0 atas Saint Kitts and Nevis di SUGBK, Jumat malam lalu. Meski skor akhir gemilang, banyak yang justru mempersoalkan peluang-peluang yang ‘gagal’ diubah sang striker menjadi gol. Suasana ini rupanya memantik reaksi pelatih John Herdman.
Herdman tak menyembunyikan rasa kesalnya. Dengan nada tegas, dia menyebut serangan kritik, terutama di media sosial, terhadap Sananta sudah keterlaluan dan sama sekali tidak pantas.
“Kami membutuhkan Ramadhan Sananta. Saya sangat kecewa dengan kritik yang dia terima,” ucap Herdman.
Bagi pelatih asal Inggris itu, menilai seorang penyerang hanya dari angka di papan skor adalah cara pandang yang sempit. Sananta, menurutnya, punya peran yang jauh lebih kompleks dalam skema permainan tim. Dedikasinya di lapangan tak perlu diragukan lagi.
“Dia pemain yang selalu memberikan segalanya untuk Indonesia. Dia bermain dengan hati,” tegasnya.
Memang, kontribusi seorang striker tak selalu terlihat jelas. Herdman lalu menjabarkan, pergerakan Sananta justru krusial untuk mengacak-acak pertahanan lawan. Dia yang menjadi ujung tombak pressing, membuka ruang, dan mengalihkan perhatian bek sehingga rekan-rekannya punya celah.
“Kritik berlebihan di media sosial tidak pantas. Kita harus lebih baik sebagai bangsa,” tambah Herdman. “Perannya sangat penting, dia membuka ruang, menjadi lini pertama dalam pressing.”
Sebagai perbandingan, Herdman menyebut nama Olivier Giroud. Striker top Prancis itu pernah melalui momen serupa tidak mencetak gol di Piala Dunia, namun kontribusinya untuk permainan tim tetap dihargai tinggi. Prinsip yang sama, menurutnya, harusnya berlaku untuk Sananta.
“Sananta juga seperti itu, bermain untuk tim,” katanya.
Di sisi lain, Herdman memahami ekspektasi publik yang tinggi. Namun, dia berharap ada perspektif yang lebih luas dari para suporter. Dukungan, bukan cercaan, yang akan membantu pemain muda seperti Sananta berkembang.
“Saya harap suporter bisa lebih menghargai kerja kerasnya,” harap Herdman.
Pembelaannya ini bukan sekadar membela anak asuh. Lebih dari itu, ini adalah pernyataan tentang budaya mendukung pemain. Dalam proses membangun tim nasional yang solid, kritik yang membangun tentu diperlukan. Tapi serangan yang menjatuhkan? Itu hanya akan menghambat progres. Herdman tampaknya ingin mengingatkan semua pihak tentang hal itu.
Artikel Terkait
Pamit Usai Bela Persebaya Enam Bulan, Bek Brasil Gustavo Fernandes Resmi Hengkang
MilkLife Soccer Challenge 2025–2026 Catat Lonjakan Peserta dan Lahirkan Juara Baru di Kudus serta Malang
Festival Sepak Bola Rakyat 2026 di Makassar Diikuti Ratusan Talenta Muda, Siap Cetak Bibit Unggul
Ribuan Bobotoh Padati Konvoi Juara Persib, Bojan Hodak Jadi Primadona