SEMARANG Waktu memang kejam. Dulu, PSIS Semarang adalah momok. Lawan-lawan besar macam Persebaya Surabaya atau Persib Bandung kerap dibuat kesulitan di Jatidiri. Tapi sekarang? Ceritanya sudah lain sama sekali.
Pekan ke-22 Championship 2025/2026 ini, Laskar Mahesa Jenar justru terlibat pertarungan sengit untuk sekadar bertahan. Mereka menjamu Persipal Palu di Stadion Jatidiri, Minggu (29/3) malam nanti. Ini lebih dari sekadar tiga poin. Ini soal hidup dan mati.
Realitasnya memang pahit. Lihat saja klasemen sementara. PSIS cuma mengumpulkan 16 poin dari 21 laga, terpaku di peringkat ke-9. Posisi itu belum aman, bahkan terlalu dekat dengan zona merah degradasi.
Catatannya: empat menang, empat seri, dan kalah sampai 13 kali. Statistik itu jelas bukan milik tim yang disegani. Angka-angka itu memaksa mereka menurunkan ekspektasi. Target utama sekarang cuma satu: bertahan.
Di sisi lain, tamunya, Persipal Palu, kondisinya bahkan lebih parah. Cuma tujuh poin dari 21 pertandingan, tanpa satu kemenangan pun. Mereka teronggok di dasar klasemen.
Tapi jangan salah. Dalam sepak bola, tim yang sudah di ujung tanduk dan tak punya apa-apa lagi untuk kehilangan, justru sering kali paling berbahaya. Mereka bisa bermain tanpa beban, dan itu mematikan.
Pelatih Andri Ramawi tentu merasakan tekanan berat itu. Waktu persiapan usai libur Lebaran memang sempit, tapi latihan digenjot maksimal.
Targetnya tegas: tiga poin. Titik.
Namun begitu, ada kegelisahan yang tak bisa disembunyikan. Satu kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal. Bisa memperpanjang krisis, atau bahkan menyeret PSIS lebih dalam ke kubangan.
Artikel Terkait
Kemenangan Timnas Ungkap Potensi Duet Beckham-Romeny, Persib Diminta Pertimbangkan
Fu Haifeng, Legenda Bulutangkis China, Ternyata Berdarah Indonesia
Veda Ega Pratama Ukir Sejarah, Pembalap Indonesia Pertama Podium di MotoGP
Timnas Indonesia Hadapi Saint Kitts dan Nevis dengan Selisih Nilai Pasar Pemain 50 Kali Lipat