Memang, nama-nama dari liga top selalu mencuri perhatian. Tapi kekuatan sebenarnya justru ada di perpaduan.
Ada Justin Hubner, Dean James, dan Nathan Tjoe-A-On yang membawa pola permainan ala Belanda. Mereka biasanya paham betul soal build-up dari belakang.
Namun begitu, peran pemain seperti Rizky Ridho atau Dony Tri Pamungkas tak kalah krusial. Mereka punya chemistry yang sudah terbangun dari lama, sering main bersama di timnas junior atau klub domestik. Sandy Walsh, dengan darah Indonesia-Belgia-nya, jadi jembatan sempurna antara kedua kelompok itu.
Kedalaman adalah Senjata Rahasia
Dengan komposisi begini, Herdman punya banyak kartu untuk dimainkan. Mau hadapi tim yang main cepat dan gesit? Atau lawan yang mengandalkan umpan-umpan panjang dan duel udara? Opsi di bangku cadangan siap menjawab.
Inilah yang bikin optimisme makin tinggi. Lini belakang Garuda sekarang bukan cuma kuat secara nama. Tapi juga dalam, fleksibel, dan siap tempur.
FIFA Series nanti jadi ajang pembuktian. Bisa tidak "tembok kokoh" Indonesia itu bertahan dan bahkan jadi awal serangan di level internasional. Semua mata akan tertuju ke Senayan.
Artikel Terkait
Harry Kane Unggul Jauh dalam Perebutan European Golden Boot 2025/2026
PSM Makassar Terima Sanksi Larangan Transfer FIFA untuk Kelima Kalinya
John Herdman Hadapi Ujian Perdana di FIFA Series, Lawan Saint Kitts dan Nevis
Hakim Danish Fokus Bangkit di COTA Usai Kalah dari Veda Ega