Veda Ega Pratama Siap Hadang Dominasi KTM dari Posisi Keempat Grid Moto3 Brasil

- Minggu, 22 Maret 2026 | 17:00 WIB
Veda Ega Pratama Siap Hadang Dominasi KTM dari Posisi Keempat Grid Moto3 Brasil

Senja di Goiânia punya caranya sendiri. Udara mulai sejuk, bayangan memanjang, dan raungan mesin kecil Moto3 mengisi sirkuit. Di tengah suasana itu, Veda Ega Pratama, pembalap 17 tahun asal Indonesia itu, bersiap. Ujiannya besar. Ia tak cuma start dari barisan depan, tapi juga sebagai satu-satunya pembalap Honda yang berani menyelak di tengah barisan KTM yang mendominasi.

Posisi keempat di grid? Itu cuma angka. Yang lebih menarik justru cerita di baliknya: tekanan, adaptasi cepat, dan keberanian membaca lintasan yang sama sekali nggak ramah.

Di depannya, tiga KTM sudah siap menerkam. Joel Esteban di pole, Valentin Perrone, lalu Hakim Danish. Bahkan di belakang Veda, dua KTM lain mengintai. Enam motor, hampir semuanya seragam. Dan di tengah-tengah lautan warna itu, Veda dengan Honda Team Asia-nya berdiri. Seperti membawa misi yang lebih berat dari sekadar finis.

Memang, sejak awal akhir pekan, lintasan di Sirkuit Ayrton Senna ini nggak memberi kemudahan. Kualifikasi yang mestinya beres malah molor karena kerusakan di area start. Jadwal mundur, matahari makin rendah. Suhu turun, grip berubah waktu untuk beradaptasi pun makin sedikit.

Veda sendiri baru turun ke trek saat sesi Q2 sudah berjalan. Pukul 17.35 waktu setempat. Dalam dunia balap, terlambat turun itu risiko besar. Ritmu bisa kacau.

Belum dua menit sesi berjalan, bendera merah sudah berkibar. Trek dinilai tidak aman. Ada serpihan dan insiden yang melibatkan Cormac Buchanan dan Hakim Danish. Semua berhenti. Konsentrasi? Buyar. Mereka harus menyusun strategi ulang dari nol.

Nah, di momen genting seperti itu, banyak pembalap memilih tunggu dan lihat. Tapi Veda lain cerita.

Begitu sesi dilanjutkan dengan sisa 13 menit, ia langsung gas pol. Lap pertamanya 1:27.213 cukup buat sementara masuk tiga besar. Tapi rupanya, itu belum cukup baginya.

Ia memilih balik ke pit. Keputusan yang nggak populer, tapi justru sering jadi penentu. Balapan kadang dimenangkan di sana, dalam pilihan strategi, bukan cuma di tikungan.

Menit-menit terakhir jadi miliknya. Waktunya dipangkas terus: dari 1:26.786, turun lagi ke 1:26.406. Cukup untuk mengamankan posisi keempat di grid, cuma selisih 0.265 detik dari pole.

Selisih tipis. Tapi itulah garis antara peluang dan risiko.

Yang bikin penampilannya menarik ya itu tadi. Di barisan depan, cuma dia satu-satunya Honda. Di tengah dominasi KTM, posisinya ibarat perlawanan kecil. Sunyi, tapi nyata.

Sebenarnya, sejak latihan, Veda sudah merasa cukup nyaman dengan karakter trek baru Goiânia ini. Meski masih ada catatan di beberapa sektor, itu pertanda ia paham batasannya dan tahu kapan harus mendorong lebih keras.

Di sisi lain, di kelas Moto2, pembalap Indonesia lain, Mario Suryo Aji, juga jalani tantangannya sendiri. Ia hadapi penundaan serupa, tapi bisa pertahankan konsistensi dan amankan tiket ke Q2. Sinyalnya jelas: generasi ini nggak cuma datang sebagai pelengkap.

Malam ini, balapan akan bergulir. Moto3 start pukul 22.00 WIB, dilanjut Moto2 pukul 23.15 WIB, dan puncaknya MotoGP jam 01.00 dini hari nanti. Jadwal padat, tapi satu benang merahnya: harapan.

Buat Veda, start dari posisi keempat ini bukan garis awal biasa. Ini titik temu antara peluang dan tekanan berat. Di depan, KTM-KTM itu akan melesat dengan percaya diri. Dari belakang, ancaman selalu ada.

Lalu, pertanyaannya: sejauh apa seorang pembalap muda bisa mengalahkan situasi yang nggak sepenuhnya berpihak?

Balapan belum mulai. Tapi ceritanya, sudah berjalan dari sekarang.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar