“Baru di balapan sesungguhnya, seperti di Shanghai dan Melbourne, Anda benar-benar merasakan bagaimana kerasnya mengatur penggunaan baterai itu,” tambah Hamilton, seperti dikutip dari Crash, Sabtu (21/3).
Di sisi lain, pria 40 tahun itu mengaku harus mempelajari banyak hal baru. Setiap fitur di mobil SF-26 Ferrari-nya jadi bahan pembelajaran. Bagi Hamilton, ini pengalaman yang benar-benar berbeda.
“Saya harus belajar lebih keras daripada era mana pun sebelumnya. Anda dituntut untuk super teliti, memperhatikan hal-hal kecil yang dulu mungkin tak terlalu krusial,” tegasnya.
Usaha ekstra itu ternyata tidak sia-sia. Hasilnya mulai kelihatan. Di F1 GP China, Hamilton sukses naik podium ketiga. Pencapaian itu sekaligus menjadi podium pertamanya sejak hengkang ke Scuderia Ferrari pada 2025.
Menurut sejumlah saksi, performanya memang menunjukkan progres.
Perjalanan musim 2026 masih panjang. Seri berikutnya akan digelar di Sirkuit Suzuka, Jepang, pada 27-29 Maret mendatang. Balapan di trek yang penuh karakter itu pasti akan menjadi ujian lain. Apakah Hamilton dan Ferrari sudah menemukan ritme yang pas? Kita lihat saja nanti.
Artikel Terkait
Mario Suryo Aji Peringkat Ketiga di Latihan Bebas Moto2 Brasil
Veda Ega Pratama Catat P8 di FP1 Moto3 Brasil, Jadi Pembalap Honda Tercepat Kedua
Veda Ega Pratama Raih P8 di FP1 Moto3 Brasil, Ungguli Rival Asia Tenggara
Persija Juarai Klasemen Penonton Super League 2025/2026