Faktor inilah yang membuatnya realistis. Dia gamau asal bertahan. Kalau sudah nggak kompetitif lagi, buat apa dipaksakan? Prinsipnya sederhana: balap selama masih bisa bersaing, bukan sekadar numpang nama.
Soal batas usia, Marquez punya pandangan sendiri. Dia nggak berniat meniru Valentino Rossi yang bertahan sampai umur 43 tahun. “Saya bahkan tidak akan mencapai usia 40 tahun untuk pensiun,” tegasnya. Cukup jelas, kan? Dia punya timeline sendiri yang ingin dipegang.
Kini, fokusnya adalah musim 2026. Setelah gagal finis di seri pembuka di Thailand karena ban pecah, Marquez dan tim Ducati Lenovo punya pekerjaan rumah. Semua mata tertuju ke seri kedua di Autódromo Internacional Ayrton Senna, Brasil, akhir pekan ini.
Meski awal kurang mulus, semangatnya tak surut. Marquez tetap optimis bisa bangkit dan kembali beradu cepat di depan. Persaingan masih panjang, dan dia nggak mau ketinggalan. Semua akan ditentukan di lintasan.
Artikel Terkait
Arteta Puas, Chelsea Lolos ke Perempat Final Liga Champions
Arbeloa: Kemenangan atas Man City di Etihad Pencapaian yang Sulit dan Melegakan
Chelsea Tumbang Telak dari PSG, Mimpi Liga Champions Pupus
Real Madrid Singkirkan Manchester City, Empat Tim Pastikan Tiket Perempat Final Liga Champions