Jakarta - Ada kebanggaan tersendiri bagi Rio Dewanto saat film terbarunya, "Pelangi di Mars", akhirnya bisa dinikmati oleh seluruh keluarganya. Aktor itu mengaku jarang sekali anaknya bisa menghadiri gala premier sebuah film. Kali ini berbeda.
"Senang banget, rasanya," ujar Rio, menceritakan momen itu. Menurutnya, film ini punya daya tarik yang luas. "Bisa dinikmati satu keluarga, semuanya, full."
Baginya, kisah dalam film tersebut memang dirancang untuk menjangkau penonton dari berbagai kalangan usia. Bukan cuma untuk anak-anak, tapi juga orang tua yang mendampingi.
Di sisi lain, sutradara Upie Guava merasa bersyukur. Film yang digarapnya lebih dari lima tahun ini rencananya akan tayang tepat di momen libur Lebaran 2026. Sebuah timing yang strategis, tentunya.
Upie tampak optimis. Kerja keras ratusan kru yang terlibat, katanya, tidak akan sia-sia. Mereka punya satu visi yang sama: membangkitkan mimpi anak-anak Indonesia.
"Saya harap film ini jadi pelajaran," tutur Upie. "Bahwa kerja keras untuk menggapai mimpi, setinggi apa pun itu, tak akan pernah sia-sia."
Film produksi Mahakarya Pictures ini sendiri cukup istimewa. "Pelangi di Mars" diklaim sebagai film fiksi ilmiah pertama di Indonesia yang memanfaatkan teknologi extended reality (XR) secara masif. Teknologi itu memberi warna baru dalam proses kreatifnya.
Penayangannya di bioskop dijadwalkan mulai 18 Maret 2026. Deretan pemainnya pun cukup panjang. Ada Messi Gusti, Lutesha, Rio Dewanto sendiri, lalu Myesha Lin, dan Livy Renata.
Tak ketinggalan, nama-nama seperti Bimo Kusumo, Kristo Immanuel, Gilang Dirga, Vanya Rivani, Dimitri Arditya, Almanzo Konoralma, Rika Kenja, dan Satria Towel juga turut meramaikan proyek ambisius ini. Mereka semua terlibat dalam perjalanan panjang film ini ke layar lebar.
Artikel Terkait
Prabowo Panggil Rosan ke Kertanegara, Bahas Danantara dan Sektor Pariwisata sebagai Motor Ekonomi Baru
Undav Samai Messi dan David di Puncak Top Skor Piala Dunia 2026 Usai Bawa Jerman Balikkan Keadaan Lawan Pantai Gading
Munas-Konbes NU 2026 Bahas Prinsip Harga Mati Organisasi dan Strategi Hadapi Era Digital
Pria di Gowa Terima Kaki Palsu dari Kemensos setelah 11 Tahun Hidup dengan Keterbatasan Akibat Serangan Buaya di Malaysia