Bagi pemain berusia 29 tahun itu, ini adalah akhir dari paceklik. Tujuh pertandingan lamanya ia tak mencetak gol. Kini, koleksinya musim ini menjadi empat. Angka yang cukup lumayan untuk seorang gelandang yang perannya lebih banyak mengatur permainan, bukan jadi pencetak gol utama.
Ada fakta menarik lain. Setiap Sávio Roberto mencetak gol untuk PSM, timnya tak pernah kalah. Lihat saja catatannya melawan Persija, Persis Solo, Persebaya, dan kini Malut United. Statistik ini mungkin terdengar kebetulan, tapi bagi suporter, hal semacam ini punya makna. Ia seperti pembawa keberuntungan, pemain yang hadir tepat di saat tim membutuhkan dorongan mental.
Gol di Ternate itu juga punya arti khusus: ini adalah gol tandang keduanya musim ini. Bukan hal sepele bagi seorang gelandang tengah. PSM sendiri, dengan hasil imbang ini, masih bertengger di posisi ke-13 klasemen. Masih ada pekerjaan rumah yang panjang.
Yang menarik, gol Sávio malah ramai dibicarakan oleh suporter klub lain. Video tendangannya viral di media sosial. Banyak komentar berdatangan, bahkan dari pendukung Persib, Persija, dan Persebaya.
Pujian mengalir untuk teknik tendangannya yang bersih dan cara ia membaca permainan. Dalam sekejap, performanya menarik perhatian publik sepak bola nasional.
Pada akhirnya, Sávio Roberto adalah tipe pemain yang bekerja dalam sunyi. Namanya jarang jadi headline, kontribusinya sering tak terlihat secara langsung. Tapi di malam yang penting di Ternate, satu tembakan dari kakinya cukup untuk mengubah segalanya. Ia mengingatkan kita, bahwa kadang, talenta terbaik justru ada di tempat yang tak terlalu banyak disorot.
Dan dalam sepak bola, satu momen spektakuler seperti itu memang sudah cukup untuk membuat seseorang kembali dikenang.
Artikel Terkait
Persis Solo Hajar Bali United 3-0, Keluar dari Zona Degradasi
Real Madrid Hajar Manchester City 3-0 di Leg Pertama Liga Champions
Manchester United Siapkan Lima Nama Calon Pengganti Michael Carrick
Persela Lamongan Manfaatkan Jeda Kompetisi untuk Perbaikan Fisik dan Taktik