Di sisi lain, tekanan dari Borneo FC nyata adanya. Ambisi mereka untuk juara makin kentara setelah kemenangan besar Sabtu malam lalu. Di Stadion Segiri, mereka membantai Persebaya Surabaya dengan skor telak 5–1. Bukan cuma tiga poin, hasil itu juga jadi salah satu kekalahan terberat Persebaya di era Super League.
Borneo tampil efektif. Hampir setiap peluang yang mereka cipta berubah jadi ancaman serius. Persebaya sebenarnya tak sepenuhnya pasif; mereka bisa menciptakan beberapa peluang. Tapi masalah lama muncul lagi: penyelesaian akhir yang payah.
Pelatih Persebaya, Bernardo Tavares, mengakui keunggulan lawan dalam hal itu.
Sementara persaingan di papan atas makin ketat, tim lain mulai tertinggal. Ambil contoh PSM Makassar. Mereka masih kesulitan mencari konsistensi. Laga terakhir berakhir imbang 3-3 lawan Malut United di Ternate.
Pertandingan itu sempat menunjukkan semangat juang PSM yang bangkit dari ketertinggalan. Tapi hasil imbang jelas belum cukup untuk mengembalikan mereka ke pacuan gelar. Sayangnya, laga itu juga dikotori kontroversi. Ada laporan soal aksi tak terpuji sebagian penonton terhadap wasit, plus intimidasi oknum ofisial ke wartawan. Insiden yang kembali mencoreng wajah kompetisi.
Kini, jelang fase akhir, peta perburuan juara makin jelas. Persib masih memimpin, tapi bayangan Borneo dan Persija tak pernah hilang. Dalam situasi seperti ini, satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal.
Seperti kata Hodak, itulah yang bikin liga ini seru. Tak ada yang aman, sampai peluit panjang akhir musim benar-benar berbunyi.
Artikel Terkait
Bhayangkara FC Balikkan Keadaan, Kalahkan Arema FC 2-1 di Lampung
Dewa United Hadapi Tekanan Maksimal di Indomilk Arena untuk Balikkan Agregat Lawan Manila Digger
Konglomerasi dan Taipan: Wajah Baru Kepemilikan Klub Sepak Bola Indonesia
Miliano Jonathans Alami Cedera ACL Kedua, Absen dari FIFA Series 2026