BIRMINGHAM – Bagi Alwi Farhan, menginjakkan kaki di Utilita Arena Birmingham bukan sekadar urusan turnamen. Ini pencapaian emosional. Sebagai tunggal putra nomor satu Pelatnas Cipayung dan peraih gelar Indonesia Masters 2026, All England selalu jadi wishlist terbesarnya. Panggung tertua di dunia itu, sayangnya, punya cara sendiri untuk memberi pelajaran. Dan pelajaran itu terasa pahit.
Mimpi juara harus tertunda. Debutnya di Birmingham berakhir lebih awal dari yang diharapkan.
Sebelum berangkat, pemain peringkat 14 dunia ini tak bisa menyembunyikan antusiasmenya. “Main di Birmingham Arena suatu mimpi yang sebentar lagi akan jadi kenyataan. Pastinya senang, excited,” ujarnya.
Ia sudah pernah merasakan atmosfer Super 1000 di China atau Malaysia. Tapi All England? Tempat ini spesial. Ia begitu ingin mencicipi karpet abu-abu ikonik itu. Namun, kenyataan di lapangan berbicara lain.
Terhenti di Delapan Besar
Perjalanannya terpaksa berakhir di babak perempatfinal, Jumat 6 Maret 2026. Di sana, Alwi harus mengakui keunggulan pemain nomor dua dunia asal Thailand, Kunlavut Vitidsarn. Pertarungannya sungguh berat.
Alwi seolah menghantam tembok besar. Pertahanan Kunlavut rapat sekali, sulit ditembus. Alwi pun menyerah dalam dua gim langsung, 17-21 dan 12-21. Usai laga, ia mengaku kalah rapi.
"Kunlavut adalah pemain yang ulet, tidak gampang mati, pemain yang kuat untuk sekarang. Saya coba melawan hal dari situ tapi saya rasa saya sedikit kalah rapi dari segi pukulannya," tutur Alwi dalam rilis PBSI.
Artikel Terkait
PSM Makassar Lakukan Restrukturisasi Teknis, Zulkifli Syukur Jadi Direktur Teknik
Shin Tae-yong Dikabarkan Berminat Beli Klub Liga 2, Bekasi City
Debut Impresif Veda Ega, Bezzecchi Menangi Seri Pembuka MotoGP 2026 di Buriram
Raymond/Joaquin Hadapi Juara Dunia di Semifinal All England 2026