PSM Makassar di Ambang Degradasi, Masa Depan Pelatih Tomas Trucha Dipertanyakan

- Jumat, 06 Maret 2026 | 21:30 WIB
PSM Makassar di Ambang Degradasi, Masa Depan Pelatih Tomas Trucha Dipertanyakan

Malam itu di Malut, suasana ruang jumpa pers terasa berbeda. Tomas Trucha, sang pelatih PSM Makassar, tak terlihat sama sekali. Yang hadir justru asistennya, Ahmad Amiruddin, yang duduk sendirian di depan awak media.

Tak ada penjelasan resmi ke mana Trucha menghilang. Namun begitu, ketidakhadirannya dalam momen penting seperti ini berbicara banyak. Semua sinyal mengarah pada satu kesimpulan: kerja sama antara Trucha dan manajemen PSM sudah di ujung tanduk, mungkin bahkan berakhir.

Ini tentu sebuah pukulan. Pasukan Ramang, sebutan untuk PSM, justru terperosok di zona degradasi. Padahal, ketika Trucha didatangkan, harapannya besar: membawa tim yang sempat juara ini kembali ke lima besar. Kenyataannya? Jauh panggang dari api.

Masalah sebenarnya sudah mengakar sejak lama. Sebelum Trucha, pelatih sebelumnya, Bernardo Tavares, sudah angkat bicara. Dia secara terbuka menyoroti kelambanan manajemen dalam menangani persoalan finansial, yang ujung-ujungnya berdampak pada gaji pemain.

Tavares hengkang, lalu Trucha datang. Sayangnya, pergantian itu tak membawa angin segar. Performa tim malah semakin suram.

Nasib Trucha sepertinya memang sudah ditentukan malam itu. Spekulasi tentang pemecatannya semakin kencang. Posisinya sebagai pelatih kepala sudah sangat tidak aman, bahkan nyaris mustahil dipertahankan.

Di sisi lain, suporter setia seperti Ulil Amri mencoba melihat sisi lain. Dia mengakui bahwa melawan Malut United bukan perkara mudah.

"Saya rasa ini sulit, karena Malut tim kuat. Tapi kalau PSM bisa menang, setidaknya bisa memberi sedikit lega bagi pelatih," ujarnya.

Namun, lega itu sifatnya hanya sementara. Ulil menambahkan, hasil minor akan menjadi pertanda akhir.

"Tapi kalau imbang, apalagi kalah, sepertinya pelatih akan semakin dekat dengan pintu keluar. Karena PSM akan semakin dekat dengan zona degradasi, apalagi kalau tim di bawahnya menang semua," kata dia.

Memang, awal kedatangan Tomas Trucha dulu diwarnai optimisme. Dia diharapkan menjadi penerus yang sepadan, atau bahkan lebih baik, dari Tavares.

Tapi statistik berbicara lain. Dari 15 laga yang dia pimpin, PSM cuma menang empat kali. Kekalahan lebih mendominasi: sembilan. Dua lainnya imbang. Angka yang sangat jauh dari target awal musim.

Yang menarik, Trucha sempat bersikukuh dengan keyakinannya. Saat diperkenalkan, dia membantah semua isu buruk yang beredar tentang kondisi internal tim.

"Banyak kabar yang beredar di luar, tetapi yang saya temui, para pemain berada dalam motivasi tinggi, mereka semua bersemangat. Saya tahu betul kondisi tim dan saya akan berusaha membawa tim ini berada di tempat yang selayaknya," tuturnya kala itu.

Dia juga pernah bertekad untuk mengubah keadaan. Kekalahan beruntun, menurutnya, punya dampak buruk yang merambat ke semua lini.

"Kita harus segera berbenah, berupaya kembali mendapatkan poin. Karena kehilangan poin terus menerus tidak baik untuk kami, tidak baik untuk owner, dan tidak baik untuk semua yang ada di sini," tegasnya dalam suatu kesempatan.

Sayangnya, tekad itu kini tinggal kenangan. Kekalahan terus berlanjut, dan kursi kepelatihannya pun terguncang hebat. Malam di Malut itu mungkin menjadi bab penutup bagi sebuah episode yang gagal.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar