Malam itu di Malut, suasana ruang jumpa pers terasa berbeda. Tomas Trucha, sang pelatih PSM Makassar, tak terlihat sama sekali. Yang hadir justru asistennya, Ahmad Amiruddin, yang duduk sendirian di depan awak media.
Tak ada penjelasan resmi ke mana Trucha menghilang. Namun begitu, ketidakhadirannya dalam momen penting seperti ini berbicara banyak. Semua sinyal mengarah pada satu kesimpulan: kerja sama antara Trucha dan manajemen PSM sudah di ujung tanduk, mungkin bahkan berakhir.
Ini tentu sebuah pukulan. Pasukan Ramang, sebutan untuk PSM, justru terperosok di zona degradasi. Padahal, ketika Trucha didatangkan, harapannya besar: membawa tim yang sempat juara ini kembali ke lima besar. Kenyataannya? Jauh panggang dari api.
Masalah sebenarnya sudah mengakar sejak lama. Sebelum Trucha, pelatih sebelumnya, Bernardo Tavares, sudah angkat bicara. Dia secara terbuka menyoroti kelambanan manajemen dalam menangani persoalan finansial, yang ujung-ujungnya berdampak pada gaji pemain.
Tavares hengkang, lalu Trucha datang. Sayangnya, pergantian itu tak membawa angin segar. Performa tim malah semakin suram.
Nasib Trucha sepertinya memang sudah ditentukan malam itu. Spekulasi tentang pemecatannya semakin kencang. Posisinya sebagai pelatih kepala sudah sangat tidak aman, bahkan nyaris mustahil dipertahankan.
Artikel Terkait
PBSI Pastikan Keberangkatan Tim Bulutangkis ke Swiss Open Tak Terganggu Konflik Geopolitik
Asisten Pelatih PSM Akui Kondisi Tim Belum Ideal, Tumbuhkan Mental Jelang Lawan Malut United
Real Madrid Siapkan Anggaran Rp1,9 Triliun untuk Rekrut Bek dan Gelandang
Victor Luiz: Comeback di Tengah Tekanan untuk Bangkitkan PSM