Sentimen serupa dilontarkan @agungalifrusadi, "Selama pelatihnya masih ini, tidak bakalan bisa menang PSM."
Tekanan untuk evaluasi juga menguat. Sebagian suporter merasa manajemen harus bertindak cepat sebelum posisi klub makin anjlok di papan klasemen.
"Sudah lama tidak pernah lagi menang. Kayak tidak pernah evaluasi. Menurut keyakinan saya, tidak ada lagi pihak berwenang yang merasa bertanggung jawab atas kondisi tim saat ini," kritik @tauhidpribadi dengan nada kecewa.
Tanggapan Manajemen Masih Ditunggu
Hingga saat ini, pihak manajemen PSM Makassar masih bungkam. Belum ada pernyataan resmi yang dikeluarkan menanggapi tuntutan pemecatan itu. Tapi situasinya tidak sederhana. Tekanan publik yang masif seperti ini biasanya jadi pertimbangan serius bagi pemilik klub. Apalagi bagi PSM, suporter adalah nyawa yang menghidupkan klub kebanggaan Sulsel ini.
Ini jelas ujian berat buat Tomas Trucha. Waktunya hampir habis. Jika tidak ada perubahan drastis di laga-laga mendatang, bukan mustahil surat pemutusan kontrak akan lebih cepat sampai di mejanya.
Lalu, Apa Langkah Selanjutnya?
PSM bukan klub sembarangan. Sebagai klub tertua di Indonesia, sejarahnya panjang dan penuh prestasi. Standar yang ditinggalkan pelatih-pelatih sebelumnya membuat posisi Trucha selalu diawasi ketat, setiap saat.
Sekarang, bola ada di pengurus klub. Pilihannya sulit: tetap bertahan dengan situasi sekarang untuk stabilitas, atau mengambil risiko dengan perombakan demi menyelamatkan sisa musim. Keputusan apapun yang diambil, konsekuensinya besar. (")
Artikel Terkait
Paul Scholes Ragukan Kapasitas Carrick, Sebut Ancelotti Sempurna untuk MU
PSM Makassar Terancam Degradasi Usai Ditaklukkan Persita
Flick Yakin Barcelona Bisa Balikkan Agregat 0-4 Lawan Atletico
Liverpool Kejar Tiket Liga Champions di Markas Wolverhampton