Gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh tiba-tiba jadi sasaran. Dua drone, menurut laporan awal, menghantam kompleks itu dan memicu kobaran api. Pemerintah Arab Saudi langsung angkat bicara, dengan keras mengutuk serangan yang mereka sebut "pengecut" itu.
Lewat Kementerian Luar Negeri, Saudi menyampaikan kecaman terkuatnya. Mereka mengecam serangan keji yang menargetkan kedubes AS, menyebut tindakan Iran sama sekali tak beralasan. Suasana di ibu kota Saudi itu sempat mencekam.
Untungnya, kerusakannya tak parah. Juru bicara Kementerian Pertahanan Saudi menjelaskan, kebakaran yang terjadi terbatas dan hanya menyebabkan kerusakan material ringan pada bangunan. Meski begitu, serangan ini jelas memperkeruh situasi.
Dan situasi di Timur Tengah memang sudah panas sejak akhir pekan lalu. Semuanya berawal dari Sabtu, 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Iran. Sasaran mereka beragam: fasilitas komando Garda Revolusi, lokasi peluncuran rudal dan drone, hingga sistem pertahanan udara.
Serangan gabungan itu dampaknya fatal. Sejumlah petinggi Iran tewas. Yang paling mengejutkan, pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei, juga menjadi korban. Kematiannya seperti menyulut bensin.
Kini, Iran balas menyerang. Aksi drone ke Riyadh ini dilihat banyak pihak sebagai bagian dari kampanye balasan mereka di kawasan Teluk. Sebuah siklus yang, sayangnya, makin mengkhawatirkan. Di sisi lain, kecaman keras dari Saudi menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas regional saat ini.
Artikel Terkait
Timnas U-17 Hadapi Laga Hidup-Mati Lawan Vietnam demi Tiket Semifinal
Kepala DKP DKI Pastikan 7 Ton Ikan Sapu-sapu Dimusnahkan, Tak Ada Penyalahgunaan
Rano Karno: Kemajuan Jakarta Bukan Hanya Soal Infrastruktur, Tapi Kualitas Manusia
Iran Perbarui Data Korban Tewas, 3.400 Orang Gugur dalam Konflik dengan AS dan Israel