Bernardo Tavares Ungkap Kerinduan pada PSM Usai Persebaya Menang Tipis

- Kamis, 26 Februari 2026 | 21:30 WIB
Bernardo Tavares Ungkap Kerinduan pada PSM Usai Persebaya Menang Tipis

Malam itu di Gelora Bung Tomo, tiga poin akhirnya berpihak pada Persebaya. Skor 1-0 atas PSM Makassar mencatatkan kemenangan penting dalam catatan lanjutan Liga 1 2025/2026. Tapi, cerita sebenarnya justru baru dimulai setelah pertandingan usai. Sorotan kamera dan perhatian media bergeser, meninggalkan lapangan rumput menuju ruang konferensi pers yang lebih sunyi.

Di sanalah nuansa pertandingan berubah total.

Bernardo Tavares, sang pelatih Persebaya, duduk di depan mikrofon. Wajahnya tak hanya menunjukkan kelegaan karena menang. Ada sesuatu yang lebih dalam, sebuah kerinduan yang tak sepenuhnya bisa disembunyikan. Lawan yang baru saja dikalahkannya bukanlah klub sembarangan. Itu adalah PSM, mantan rumahnya sendiri.

“Itu klub terakhir saya. Saya ingin mendoakan semoga sukses untuk PSM di pertandingan berikutnya,” ucap Tavares, suaranya lebih lembut dari biasanya.

Kalimatnya singkat, namun terasa berat. Ia tak sekadar bicara sebagai rival. Ini lebih seperti seorang yang sedang bertemu kembali dengan sejarah pribadinya.

Baginya, PSM jelas bukan sekadar lawan. Tiga setengah musim bukan waktu yang singkat. Di Makassar, ia tak cuma membangun taktik, tapi juga hubungan. Banyak pemain yang masih membela PSM hari ini adalah buah keputusannya dulu. Ia mengenal karakter mereka, kekuatan dan kelemahannya, bahkan mungkin cerita di balik lapangan. Ikatan itu, rupanya, belum putus.

“Kami bersama selama tiga tahun, dalam suka dan duka. Kami seperti keluarga,” katanya lagi, menguatkan kesan bahwa pertandingan tadi lebih dari sekadar urusan tiga poin.

Di sisi lain, dunia sepak bola profesional tak pernah berhenti. Tuntutan untuk menang adalah segalanya. Tavares sendiri sangat paham batas itu. Sebagai arsitek kemenangan Persebaya malam itu, ia jelas tak boleh sentimental selama 90 menit. Poin sangat dibutuhkan untuk mendongkrak posisi Persebaya di papan atas. Sementara PSM, di ujung lain, tercecer di zona berbahaya.

Namun begitu peluit akhir berbunyi, sisi manusianya kembali muncul. Yang menarik, ia punya pesan khusus untuk suporter PSM hal yang jarang sekali terdengar dari seorang pelatih tim lawan.

“Dukung tim kalian. Jangan menyerah, karena mereka membutuhkan dukungan,” pesannya.

Seolah ia masih merasa bagian dari mereka. Seperti saudara yang merantau, namun masih peduli dengan kabar keluarga lamanya.

Secara tabel, hasil ini jelas menguntungkan Persebaya. Mereka mengokohkan posisi kelima dengan 38 poin, momentum positif setelah performa naik-turun. Sebaliknya, PSM tetap terperangkap di posisi ke-13 dengan koleksi 23 poin. Situasi yang memprihatinkan, dan ironisnya, fondasi tim yang dulu juara justru dibangun oleh pria yang kini berhasil mengalahkan mereka.

Memang, sepak bola selalu penuh paradoks semacam ini.

Pertandingan memang cuma 90 menit. Klasemen akan terus berubah. Pemain silih berganti. Tapi hubungan yang terbangun dari perjalanan panjang, rasanya, tak pernah benar-benar hilang. Ucapan Tavares menjadi buktinya. Di lapangan, rivalitas adalah hukum besi. Tapi di luar garis putih, rasa hormat dan kenangan indah bisa tetap hidup.

PSM mungkin sedang berjuang. Persebaya tengah mengejar mimpi baru.

Tapi bagi Bernardo Tavares, satu hal tetap nyata: Makassar akan selalu menjadi rumah lamanya. Dan kenangan, seperti yang kita tahu, punya caranya sendiri untuk bertahan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar