Perbedaan antara kedua ajang balap itu memang ekstrem. Di satu sisi, Superbike menggunakan motor produksi massal dengan ban Pirelli. Sementara MotoGP adalah jagad prototipe murni, mesin yang dibangun khusus tim, dan ban Michelin yang karakternya sama sekali berbeda. Bukan cuma soal naik motor dan gas pol.
Namun begitu, Quartararo menilai hasil itu wajar saja. Menurutnya, Razgatlioglu datang di waktu yang kurang bersahabat. "Dia datang di masa paling sulit buat Yamaha," papar pembalap asal Prancis itu. "Dan di saat bersamaan, dia harus menghadapi perbedaan pemasok ban. Saya bilang padanya, normal untuk menghadapi kesulitan-kesulitan di saat debut."
El Diablo, panggilan Quartararo, tetap yakin. "Dia hanya butuh waktu untuk jadi lebih cepat dan merasa nyaman. Dia anak baik. Saya mendoakan yang terbaik buatnya," tandasnya.
Simpati Quartararo mungkin juga berangkat dari pengalaman pahitnya sendiri. Di tes yang sama, ia pernah terlihat frustrasi. Bahkan, sebuah momen menangkapnya mengacungkan jari tengah ekspresi kemarahan terhadap performa Yamaha yang masih belum menemukan titik terang.
Jadi, kasihan? Iya. Tapi di garasi Yamaha, rasa itu sepertinya bukan milik Quartararo seorang. Mereka semua sedang berjuang. Dan untuk Razgatlioglu, perjalanan panjangnya di MotoGP baru saja dimulai dengan sebuah awal yang berat.
Artikel Terkait
Lefundes Tegaskan Semangat Juang Borneo FC Tak Padam Meski Tersungkur ke Posisi Ketiga
Persija Jakarta Tundukkan Malut United 3-2 dalam Laga Sengit Pekan ke-23 Super League
Inter Milan Tersingkir dari Liga Champions Usai Dikalahkan Bodo/Glimt
Tavares Tegaskan Fokus Penuh Bawa Persebaya Taklukkan Mantan Klub PSM