Dalam konferensi pers usai laga, pelatih PSM Tomas Trucha tidak menyembunyikan kekecewaannya atas penampilan timnya. Ia secara terbuka mengkritik performa buruk yang ditunjukkan anak asuhnya sejak awal pertandingan.
"Buruk, sangat buruk sejak awal pertandingan. Kita cuma melihat-lihat Dewa United memainkan bola," tuturnya dengan nada kecewa.
Pengakuan tersebut menyiratkan sebuah kegamangan taktis. Alih-alih memanfaatkan energi pemain baru untuk mengambil inisiatif, PSM justru terlihat gamang dan terlalu menghormati lawan, bahkan di hadapan pendukung sendiri.
Pelajaran Berharga Menuju Laga Berat
Kekalahan ini terasa lebih menyakitkan karena mengubur momentum dari kemenangan sebelumnya. PSM kini tergelincir ke peringkat 13 dengan 23 poin, hanya berjarak delapan angka dari zona degradasi sebuah margin yang mengkhawatirkan di tengah persaingan ketat Liga 1.
Lebih dari sekadar angka, laga ini meninggalkan pertanyaan mendalam tentang mentalitas tim. Stadion kebanggaan seharusnya menjadi tempat untuk berani, bukan untuk bersembunyi. Strategi bertahan yang tanpa rencana serangan balasan yang jelas pada akhirnya hanya menumpuk tekanan hingga titik jebol.
Ujian berikutnya sudah menanti: tandang ke markas Persija Jakarta. Jika pendekatan yang sama, penuh kehati-hatian dan pasif, kembali diulang, risiko yang dihadapi bisa jauh lebih besar. Kekalahan di Parepare harus menjadi refleksi. Sepak bola selalu memberi kesempatan untuk menebus, tetapi itu memerlukan keberanian untuk berubah dan mengambil risiko.
Artikel Terkait
Kiandra Ramadhipa Kembali Perkuat Red Bull Rookies Cup Musim 2026
Republik Ceko Akhiri Puasa 20 Tahun, Lolos ke Piala Dunia 2026 Lewat Drama Adu Penalti
Jay Idzes Soroti Energi dan Taktik Baru John Herdman di Debutnya dengan Timnas Indonesia
Pelatih Bulgaria Buka Peluang Kembali Berkarier di Indonesia