PSM Makassar Tumbang di Kandang, Konsistensi dan Pertahanan Jadi Masalah

- Sabtu, 14 Februari 2026 | 21:30 WIB
PSM Makassar Tumbang di Kandang, Konsistensi dan Pertahanan Jadi Masalah

MURIANETWORK.COM - PSM Makassar kembali harus menelan kekalahan di kandang sendiri. Bertanding di Stadion BJ Habibie, Sabtu sore, Juku Eja takluk 0-2 dari Dewa United FC pada laga pekan ke-21 Super League. Hasil ini semakin memperjelas tantangan konsistensi yang dihadapi tim asuhan Tomas Trucha, sekaligus menempatkan mereka di posisi ke-13 klasemen sementara dengan catatan pertahanan yang masih rapuh.

Dominasi Lawan dan Momen Penentu

Sejak awal laga, pola permainan sudah terbaca. Dewa United menguasai alur pertandingan dengan penguasaan bola terstruktur dan distribusi umpan yang sabar. PSM, yang memilih bertahan dan mengandalkan serangan balik, kesulitan merebut inisiatif. Tekanan demi tekanan berhasil ditahan hingga babak pertama berakhir tanpa gol, memberikan sedikit harapan bagi suporter yang memadati tribun.

Namun, situasi berubah drastis pada menit ke-75. Victor Luiz menerima kartu merah, memaksa PSM bermain dengan sepuluh pemain di sisa waktu yang krusial. Struktur pertahanan pun mulai goyah.

“Vico melepaskan tendangan bebas yang meluncur deras, gagal diantisipasi Reza Arya,” ujar seorang analis yang mengamati pertandingan, menggambarkan gol pembuka Dewa United di menit ke-90. Suasana hening seketika menyelimuti stadion.

Keadaan semakin berat bagi tuan rumah. Memanfaatkan kelengahan di masa injury time, Alex Martins berhasil menggandakan keunggulan sekaligus mengunci kemenangan bagi tim tamu.

Catatan Evaluasi Pasca-Kekalahan

Kekalahan ini bukan sekadar insiden, melainkan cerminan dari beberapa persoalan mendasar yang perlu segera diatasi manajemen dan pelatih.

Konsistensi yang Masih Hilang

Di bawah Tomas Trucha, PSM belum menunjukkan stabilitas performa. Dari lima laga terakhir, hanya satu kemenangan yang berhasil direbut. Tren positif usai menahan Semen Padang dan mengalahkan PSBS Biak kembali terputus. Dalam liga yang panjang, inkonsistensi seperti ini akan menyulitkan tim untuk meraih posisi aman, apalagi mengejar papan atas.

Benteng Kandang yang Tak Lagi Angker

Stadion BJ Habibie, yang dulu dikenal sebagai tempat yang menakutkan bagi lawan, kini kehilangan aura tersebut. Kemenangan kandang terakhir terjadi pada November lalu. Meski dukungan suporter tetap solid, hal itu belum mampu diterjemahkan menjadi keunggulan psikologis dan poin maksimal di lapangan. Kondisi ini lambat laun dapat menggerogoti kepercayaan diri pemain.

Kerapuhan di Lini Belakang

Catatan 24 gol kemasukan musim ini adalah alarm yang serius. Meski sempat mencatat clean sheet, dua laga terakhir membuktikan masalah lama seperti disiplin menjaga ruang dan transisi bertahan yang lambat masih membelit. Kedalaman skuad di sektor pertahanan, yang diperparah dengan insiden kartu merah, tampaknya menjadi pekerjaan rumah yang mendesak.

Debut Berat Sang Rekrutan Andalan

Perhatian juga tertuju pada penampilan perdana Dusan Lagator, rekrutan termahal PSM yang diharapkan menjadi pengganti Yuran Fernandes. Gelandang asal Montenegro itu masuk di menit ke-64, namun debutnya berjalan berat. Ia belum mampu memberikan pengaruh signifikan untuk mengubah dominasi permainan lawan atau mengontrol ritme laga.

“Tentu, tidak adil menilai seorang pemain hanya dari satu pertandingan,” tutur seorang pengamat sepak bola lokal. “Adaptasi terhadap atmosfer kompetisi, cuaca, hingga chemistry dengan rekan setim membutuhkan waktu.”

Namun, tekanan ekspektasi terhadap pemain dengan label harga tinggi memang nyata. Kekalahan dalam laga debutnya menjadi noda awal yang harus segera dihapus dengan kontribusi nyata di pertandingan-pertandingan mendatang.

Di Persimpangan Jalan

Posisi di peringkat ke-13, meski belum di zona degradasi, tidaklah nyaman. Jarak yang tipis dengan papan bawah menuntut kewaspadaan ekstra. Sementara itu, Dewa United di peringkat kesembilan justru menunjukkan perkembangan yang stabil.

PSM kini berada di titik kritis. Musim ini akan menentukan apakah mereka mampu menemukan kembali identitas dan mental juara yang dulu disegani, atau justru terperosok dalam krisis kepercayaan yang lebih dalam. Waktu untuk berbenah semakin sempit, dan setiap pertandingan ke depan memiliki bobot yang sangat berarti. Bagi Lagator dan seluruh skuad, jalan panjang nan berliku di Makassar baru saja dimulai.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar