Kekalahan ini, mau tak mau, mengingatkan kita pada penampilan klub Indonesia lain di Asia. Ambil contoh PSM Makassar di era Bernardo Tavares beberapa musim lalu.
Di bawah asuhan pelatih asal Portugal itu, PSM tampil jauh lebih kompetitif. Mereka bukan sekadar pelengkap penderita. Tim asal Makassar itu bisa bersaing dan menjaga martabat, bahkan saat berhadapan dengan lawan yang di atas kertas lebih kuat.
Rahasianya apa? Pendekatan Tavares yang pragmatis. Dia membangun tim dengan fondasi pertahanan yang rapat dan disiplin. Transisi dari bertahan ke menyerang dilakukan dengan cepat dan terorganisir. Itu yang membuat PSM sulit ditaklukkan.
Nah, bandingkan dengan penampilan Persib di Thailand tadi malam. Pertahanan goyah, koordinasi antar-lini seperti tak ada, dan finishing yang payah. Di level Asia, hal-hal kecil seperti itu langsung dihukum. Cukup satu kesalahan, satu marking yang terlambat, dan gol pun tercipta.
Memang, cerita belum berakhir. Masih ada leg kedua di Bandung. Tapi untuk membalikkan agregat 3-0, Persib butuh sesuatu yang lebih. Butuh disiplin, efektivitas, dan mental baja hal-hal yang dulu menjadi ciri khas PSM di masa jayanya.
Malam kelam di Thailand sudah lewat. Pertanyaan besarnya sekarang: bisakah Persib bangkit dan memberikan kejutan? Semua jawabannya akan tersaji di Bandung nanti.
Artikel Terkait
Liverpool Incar Maxence Lacroix, Bek Tercepat Premier League
Veda Ega Pratama Gagal Finis di COTA, Tapi Tunjukkan Mental Juara
Final FIFA Series 2026: Duel Gaya Italia dan Ajang Pembuktian Jay Idzes
Veda Ega Pratama Alami Kecelakaan di Moto3 AS, Kondisi Dinyatakan Baik-baik Saja