"Jika kami berlatih pukul sembilan pagi, Anda tiba pukul delapan, dia sudah ada di sana. Pukul setengah tujuh, dia sudah ada di sana," kenang Tevez.
"Suatu hari saya tiba pukul enam pagi untuk menjemputnya dan dia sudah ada di sana. Setengah tertidur tetapi dia ada di sana."
Garay membenarkan cerita itu. Setelah Ronaldo pindah ke Madrid, ia melihat sendiri rutinitas gila itu. "Dia yang pertama datang pukul 6 pagi dan yang terakhir pergi. Rutinitasnya padat: gym, pemanasan, fisioterapi… semuanya untuk selalu berada dalam kondisi terbaik," jelas Garay.
Tapi, baik Garay maupun Tevez, tetap menempatkan Messi di posisi teratas. Alasannya sederhana: bakat alami. Messi seolah terlahir dengan bola di kakinya.
Tevez pernah berkomentar soal perdebatan GOAT ini. "Cristiano benar-benar berbeda dari Messi. Ketika Leo memulai kariernya, dia tidak berlatih di gym. Cristiano ada di sana pagi, siang, dan malam. Leo selalu bersama bola. Cristiano harus bekerja keras dan mempersiapkan diri untuk menjadi yang terbaik, itu datang secara alami bagi Leo."
Yang menarik, kedua megabintang ini belum menunjukkan tanda-tanda pensiun. Ronaldo masih terikat kontrak dengan Al-Nassr hingga 2027. Messi juga masih bersinar di Inter Miami, dengan kontrak sampai 2028.
Bahkan, ada spekulasi mereka mungkin bertemu lagi di Major League Soccer. Sementara itu, di level internasional, keduanya diprediksi masih akan membela negara masing-masing di ajang besar mendatang. Perdebatan siapa yang terhebat mungkin tak akan pernah berakhir. Tapi pengalaman langsung dari orang-orang seperti Ezequiel Garay ini setidaknya memberi kita sudut pandang yang sangat istimewa.
Artikel Terkait
PSM Makassar Lepas Belenggu, Dua Rekrutan Baru Siap Didaftarkan
De Sciglio Ungkap Penolakan ke Liverpool dan Luka Masa Lalu di Milan
Gol Reza Gemakan Indonesia Arena, Futsal Garuda Lolos ke Semifinal
PSM Makassar Terancam Degradasi, Pelatih Baru Dikritik Gagal Temukan Formulasi